Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Cerpen - Dinda, Ku Tunggu Kau Kembali


Cintaku indah seindah suara yang kau lantunkan dari bibir merahmu, cintaku sejati bagaikan karang yang di hempas ombak, cintaku putih, seputih berlian dan mutiara yang bersinar. Namun, cintaku hancur dan hilang ketika dirimu berpaling menjauh.
Pagi itu, aku dipanggil temanku ke lapangan untuk olahraga pagi, ia ingin aku juga ikut bersamanya, tetapi pada saat itu aku nggak tahu ia mau ngapain… “risky, ayo kita pergi ke lapangan!” ajak feri, “iya tunggu dulu, aku mau cuci muka dulu yah” balasku padanya dengan perasaan yang masih ngantuk. “Baiklah tapi jangan pake lama yah”
“Ayo kita pergi,” ajak feri kepadaku. Kami pun berjalan menuju lapangan dengan sedikit berlari hitung hitung keluarin keringat. Ketika kami sampai di lapangan, ia mengajakku untuk bermain bola, “ayo risky kita bermain!” ajak feri. “ah, aku nggak mau aku ingin melihat lihat saja!” kata ku. Baiklah aku ingin pergi dulu yah.” Ujar Feri lalu berlari. Aku duduk di pinggir lapangan, sambil melihat lihat orang yang sedang beraktivitas pagi itu.
Namun, tiba tiba aku melihat seseorang yang rasa rasanya aku kenal, tetapi aku lupa namanya. Sehingga aku menghiraukannya. Dan tidak lama ia mendatangiku dan berkata “hai reski kau udah lupa sama aku?” kata gadis itu. “Kamu siapa?” Sambil berfikir “yah sekarang aku ingat kamu pasti N…n.. Nanda kan, yang 3 tahun lalu pindah ke bandung?” kata ku yang sedikit bingung dan heran. “ya, kau benar aku Nanda” katanya kepadaku. “Kapan kamu datang kesini?” tanyaku kepadanya. Aku datang kesini sejak 3 hari yang lalu karena aku ingin Menjenguk nenek ku yang sedang sakit.” balasnya kepada ku.
“Kamu banyak berubah yah, kamu sekarang lebih cantik!” kataku yang sedikit memuji. “ah bisa aja kamu.” kata Nanda kepadaku. “Tunggu dulu yah aku panggil Feri ia sedang main bola.” Kataku kepada Nanda. “Feri ayo kesini ada kejutan nih!” teriakku padanya. Ia pun lari menghampiriku “ada apa sih res, kayanya spesial banget!” katanya yang sedikit capek.. “lihat aja tuh siapa yang datang!” balas ku padanya.
“Nanda, apa kau Nanda?” Tanya nya kepada gadis itu. “yah ini aku, bagaimana kabar kamu ri?” Tanya nya kepada feri. “aku baik baik saja.” Jawab Feri dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Lalu kami bertiga pun berbincang bincang hingga waktu udah sampai siang hari.
“hai kalian berdua, mau temenin aku nggak?” Tanya Nanda kepada kami berdua. “kalau aku sih nggak bisa wa, karena ku mau pergi latihan drum” jawab feri. “kalau kamu ris, mau temenin aku nggak?” Tanya Nanda kepadaku. Aku menjawab bahwa aku mau mau saja. dan aku pun ditunggunya nanti sore
Sore pun tiba, setelah mandipun dan merias diriku hingga rapi aku pun pergi, tetapi ketika aku keluar rumah aku minta izin di ibu, ibu ku terlihat heran melihatku sangat rapi. “kamu mau kemana ris, kayaknya rapi banget tu?” Tanya ibu. “aku ingin nganterin Nanda ke toko bu.” Kataku kepada ibu.
Setelah aku tiba di depan rumah Nanda, aku mengetok pintu dan mengucapkan salam, lalu Ibu Nanda datang, “ada apa nak..? Cari siapa?” Tanya Ibu Temanku itu. “Maaf Bu, Saya ingin bertemu Nanda, ia meminta saya untuk menemaninya” Kataku dengan santai. “Oh, iya, tunggu yah nak!” Jawab Ibu Nanda. Aku pun menunggu di depan rumah, dan, ketika Nanda keluar aku terkagum melihat kecantikannya setelah ia berdandan, seolah dunia berhenti dan diriku hanya terfokus pada seseorang, bagaikan bidadari yang jatuh dari surga. “mengapa kamu ngeliatin aku gitu ris?” Tanya Nanda kepadaku. “e..e… enggak” jawabku sedikit gugup. “yah sudah kalau begitu, ayo kita pergi karena aku udah nggak sabar buat jalan jalan di kota ini lagi.” Jawabnya kepadaku.
Kami pun berjalan bersama… sampai sampai waktu sudah malam, kami pun pulang ke rumah, kembali ke rumah mereka masing masing. Setelah mandi, aku dipanggil ibu untuk makan, tapi aku tak mendengarnya, karena aku masih membayangkan Nanda, ia sangat cantik, hingga sampai sampai membuat ingat terus padanya. “Reski, ayo makan nanti makanannya habis.” Teriak ibu karena aku sedang melamun. “iya bu.” Aku cepat cepat berlari ke dapur untuk makan. setelah makan, aku hanya keluar di depan rumah untuk duduk santai di serambi rumahku tercinta. Setelah itu aku masuk kamar, sambil berbaring, ingatanku hanya tertuju pada satu fokus, terus membayangkan Nanda, “aku nggak habis pikir, Nanda dapat berubah, ia sangat cantik, tak kalah dengan Cinderella. Apakah ia akan tinggal disini, karena mungkin ayahnya sudah selesai untuk bekerja aku pikir aku Menyukainya, tapi aku nggak berani ngengungkapinnya”. kataku dalam hati. Aku pun tertidur, “Nanda, Nanda jangan tinggalkan aku, aku mohon jangan tinggalkan aku.” Kataku yang sedang mengigau.
“Reski, bangun, kamu kenapa nak?” kata ibuku. Tetapi aku masih saja mengigau dan akhirnya ibu pun menyiramku dengan air karena terpaksa. Ketika aku sudah bangun, “ah… Ada apa ini, kok ada air!” kataku yang sedang kaget dan kebasahan. “Kamu mengigau tetapi kau ibu bangunkan kau tak mau bangun, yah sudahlah tidurlah kembali.” kata ibu, sambil pergi kembali ke kamarnya. Keesokan harinya, aku pun pergi ke rumah Nanda, setelah aku sampai di rumahnya, aku melihat Nanda sudah mau pulang kembali ke bandung. “Nanda, kau mau kemana?” Tanya ku sedikit heran. “Aku ingin pulang ke bandung, karena ayah ku masih bekerja. titip salam yah buat feri.” Kata Nanda.
“aku, aku, mau bicara sama kamu, ada persoalan penting yang ingin ku katakan padamu!” kataku sedikit gugup. “ada apa, kok kamu gugup gitu, santai aja kali.” Jawab Nanda dengan tenang. “sebenarnya, aku tidak berani menyampaikan hal ini, tapi agar tak ada tertinggal aku mau jujur, sebenarnya aku nyimpan perasaan ke kamu, aku ingin mengatakan aku suka sama kamu, mau nggak kau jadi A..A… Adinda yang melabuhakan cintanya ke hatiku?” Tanyaku sambil menghela nafas. “aku juga suka ama kamu, tapi buat pacaran, kayaknya aku nggak bisa, kita jalani hidup aja dulu, kita masih perlu untuk menuntut ilmu. Biarlah kita bersahabat saja, Namun aku bukannya menolak, aku akan setia untuk menunggumu, menunggumu sebagai pelabuhan tempat cintaku kan kusandarkan”. Balasnya padaku dengan sedikit raut wajah yang kecewa.
Hatiku merasa sedikit kecewa. Mobil yang akan di tumpangi Nanda pun datang dan Nanda pun pergi, tetapi sebelum ia pergi ia memberiku kalung yang bertuliskan NR. Aku merasa terhibur, walaupun hatiku sedikit teriris perihnya kegalauan. “Aku akan tetap berusaha buat rebut hatinya Nanda.” Kataku dalam hati dengan optimis. Aku sadar Nanda sahabatku, namun aku harus berusaha, dia akan menunggu, dan aku akan berusaha untuk menjadi kanda dari seorang dinda yang menjadikan hatiku sebagai persinggahannya kelak.” Kataku dalam hati mencoba menyemangati diriku. Aku pun pulang dengan harapan yang selalu ku pendam dalam qolbuku. “Dinda, Ku Tunggu Kau Kembali” Kataku di dalam hati.
Mungkin setiap rasa dalam hati adalah anugerah, tapi bukan berarti cinta adalah segalanya, semua akan lebih baik jika kita lebih berfikir dan memikirkan kedepan. Percayalah, tak akan ada cinta yang akan singgah bukan pada tempatnya.
Cerpen Karangan: Muhammad Rifki Nisardi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar