Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Cerpen - Bukan Dia Tapi Kamu Vin


Ku melirik alvin yang berdiri tak jauh dariku, alvin asyik ngobrol dengan danar temannya. Aku kembali melihat ke depanku andini masih asyik melihat pengumuman di Mading sekolah. Aku mendekati andini.
“Sudah selesai bacanya?” tanyaku, tanpa menoleh padaku andini menjawab.
“Sebentar cherise..” ucapnya, aku akhirnya ikutan membaca pengumuman di mading. Hmm.. pengumuman pertandingan basket persahabatan rupanya.
“Udah yuk..” ajak andini
“Yuk..” ucapku lalu aku dan andini melangkah meninggalkan mading menuju kelas, sebelumnya ku lirik alvin yang masih asyik ngobrol dengan danar. Alvin mungkin akan ikut dalam pertandingan itu, dia kan salah satu pemain terbaik team sekolah kami.
Aku dan andini masuk ke dalam kelas, dan duduk di bangku kami. Nggak lama kemudian alvin muncul di kelas kami bareng danar dan ezio kapten basket di sekolah kami. Ini masih jam istirahat wajar sih mereka datang ke kelas kami mungkin mau bertemu rian ketua kelas kami. Tapi mereka berdiri di depan kelas dan meminta perhatian kami. Teman-teman yang ada di kelas akhirnya memperhatikan mereka.
“Teman-teman sesuai dengan pengumuman di mading kita yang mengumumkan tentang pertandingan persahabatan yang di lakukan di sekolah kita. Saya sebagai kapten team basket sekolah kita mengajak teman-teman untuk audisi jadi pemain team kita. Seperti yang teman-teman ketahui, teman kita adri dan mike sudah pindah dari sekolah ini jadi team basket sekolah kita butuh dua pemain baru di team.” Ucap ezio, audisi… sudah kayak mau syuting aja… Teman-teman jadi ribut mendengar perkataan ezio..
“Oke teman-teman silahkan daftar dengan rian, kita audisi besok sore di sekolah. Terima kasih atas perhatian teman-teman.” Ucap ezio mengakhiri perkataannya, rian mendekati ezio lalu mereka ngobrol sebentar. Alvin dari tadi terlihat cuek tanpa senyuman, lalu mereka keluar dari kelas kami.
“Cher.. seru ni ngelihat audisi besok sore..” ucap andini, aku diam aja.
“Hei kok diam aja.” Protes andini.
“Emang aku harus bilang apa..” ucapku cuek.
“Bilang iya gitu, biar kita besok ngeliat audisi mereka.” Ucap andini.
“Kayaknya aku ngak ikutan..” ucapku
“Kenapa? Wah lo.. jangan karena sudah putus dari alvin langsung anti gitu dengan team basket kita..” ucap andini.
“Siapa yang putus dengan alvin, jadian aja ngak.” ucapku sewot, andini tertawa ngakak.
“Kalau gitu besok kita nonton audisi titik.” Ucap andini dengan sisa tawanya yang masih ada. Aku cemberut, andini tidak terbantahkan.
“Besok sore datang ya cher, aku mau ikutan audisi.” Ucap arsen yang sudah ada di dekat meja ku dan andini. Aku menoleh pada arsen, dia tersenyum manis.
“Tentu ars.. kami sudah janjian kok.” Ucap andini mewakili aku menjawab arsen, aku cuma bisa tersenyum dasar andiniii…
“Oke.. dukung aku ya supaya bisa masuk team basket kita” ucap arsen.
“Pastinya..” ucap andini lagi. Lalu arsen meninggalkan kami berjalan kembali ke bangkunya. Aku menoleh pada andini.
“Andini..” ucapku kesal, andini Cuma tersenyum senang ih.. nyebelin banget
Alvin, cowok baik yang selalu perhatian padaku. Tapi.. itu dulu sekarang nyaris tanpa sapaan. Aku ngak tahu kenapa alvin berubah. Setiap aku bertanya tentang ke cuekannya padaku dia selalu mengatakan kalau semua baik-baik aja dan itu cuma perasaanku saja. Perasaanku saja? Aneh, teman-teman aja bertanya kenapa kami tidak seakrab dulu. Itu artinya bukan hanya perasaanku tapi semua juga merasakan kecuali dia mungkin… Sebenarnya saat-saat kebersamaan kami telah menyemaikan benih perasaan sayang di hatiku untuk alvin dan saat benih itu mulai bertumbuh alvin seperti menghilang dalam perjalan hidupku. Aku kecewa.. bahkan sangat kecewa tapi itu tidak membuatku kehilangan perasaan sayangku padanya. Justru aku selalu berharap alvin kan kembali ke kehidupanku… Aku sangat berharap… Tuhan bawa alvin kembali ke kehidupanku..
Berdiri di bawah panas matahari sore di sisi lapangan basket. Audisi pemilihan pemain basket sudah di mulai. Di sisiku berdiri andini yang begitu bersemangat. Ku lihat alvin berdiri di sisi lain lapangan, dengan kostum basketnya. Dia serius banget memperhatikan permainan calon pemain baru di team basket itu. Boleh ngak sebentar saja kamu melihat ke arahku vin.. ucapku dalam hati. Tapi itu semua hanya harapan yang sia-sia. Beberap team sudah bermain, kini giliran team arsen. Ku lihat alvin tukar posisi dengan temannya dan dia berjalan menjauhi lapangan. Aku menatapnya…
“Doakan aku ya..” ucap arsen sebelum bermain di lapangan, aku mengalihkan tatapanku ke arsen. Aku senyum bingung jawab apa.. sedang andini bersorak untuk team arsen. Dengan sedikit ragu aku mundur ke belakang, aku penasaran alvin kemana, apakah dia ke toilet? atau.. Tanpa sadar aku melangkah ke arah alvin tadi berjalan. Aku menuju toilet tapi aku urungkan niatku ih.. ngapain lagi sampai segitunya aku mencari alvin. Aku putar langkahku, kantin aja deh beli minuman.
Aku berjalan ke arah kantin. Langkahku terhenti, aku melihat alvin duduk di bangku di sisi koridor sekolah. Dia seperti melamun, ada apa dengan alvin? kenapa dia memilih duduk di sini dari pada di lapangan basket kesukaannya. Aku mendekatinya.
“Vin..” sapaku, alvin mengangkat wajahnya. Aku senyum, dia tidak membalas senyumku.
“Ngapain kamu di sini?” tanyaku.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya balik.
“Aku mau ke kantin beli minuman.” Jawabku, alvin diam.
“Mau ikut dari pada bengong di sini.” Ajakku, alvin tidak bereaksi sejenak lalu.. dia berdiri dan melangkah ke arah kantin. Aku senyum dan melangkah menjejeri langkah alvin yang panjang-panjang tapi perlahan alvin melambatkan langkahnya sehingga kami berjalan beriringan. Kami masuk ke kantin lalu memesan minuman dan duduk di sudut kantin.
“Kamu kok ke kantin arsen lagi main tu..” ucap alvin, aku senyum.
“Kamu ada masalah, kok menyendiri gitu” ucapku, tidak peduli dengan perkataan alvin.
“Ngak cuma lagi mau istirahat aja” ucapnya.
“Aku kangen lo.. jalan ke taman bareng kamu.” Ucapku pelan, ku lihat wajah alvin berubah tapi hanya sesaat lalu kembali seperti biasa.
“Kamu ngak ya..?” tanyaku, alvin langsung berdiri.
“Vin..” ucapku.
“Kita kembali ke lapangan yuk.” ajaknya, aku ngak bisa menahan perasaan kesalku padanya. Aku berdiri juga lalu…
“Oke vin, sepertinya ngak ada gunanya aku berusaha perbaiki hubungan ini karena kamu sama sekali tidak perduli. Aku ngak tahu kenapa kamu jadi nyebelin begini.” Ucapku kesal alvin menatapku kaget, kaget melihatku marah mugkin.
“Kamu tahu ngak aku sayang kamu.” Ucapku lalu berjalan cepat pergi dari kantin setelah meninggalkan uang di meja kantin. Alvin masih berdiri di tempatnya mungkin kaget atau apalah aku ngak peduli. Aku melangkah cepat bukan ke lapangan tapi ke gerbang sekolah. Aku memutuskan pulang, andini pasti akan mencari-cariku nanti tapi biarlah.
Kejadian dua hari lewat di sekolah itu membuatku bersikap dingin pada alvin dan tidak pernah mau bicara dengannya. Saat aku pulang itu alvin menyusulku ke rumahku, tapi aku ngak mau menenmuinya. Di sekolah pun aku ngak mau bicara padanya, andini yang kecarian saat audisi itu pun tidak berani protes padaku. Cherise lagi marah lebih baik diam. Itu yang dikatakan andini. Arsen pun ku cuekin, arsen yang ngak tahu ada masalah apa bingung dengan sikapku yang berubah.
Sepulang sekolah aku pulang sendiri tanpa andini karena dia sudah lebih dulu pulang. Tadi aku piket kelas, biasanya andini mau nungguin aku tapi hari ni dia bilang harus pulang cepat nyebelin banget. Sekolah sudah sepi, paling siswa yang ekstrakurikuler yang masih ada di sekolah. Tiba-tiba alvin sudah ada di depanku, aku mencoba menghindarinya. Alvin menangkap tanganku, aku menatapnya kesal.
“Ngak usah pasang muka kesal gitu, aku sudah tahu kamu sayang aku jadi kamu ngak mungkin membenciku kan” ucap alvin sambil senyum manis, nyebelin banget.
“Cher, maaf kalau selama ini sudah bersikap tidak peduli padamu.” Ucapnya, aku menatapnya.
“Itu karena aku sayang kamu” ucapnya hah.. alasan yang aneh tapi apa yang dia katakan dia sayang aku?
“Aku pikir kamu suka arsen jadi aku memilih mundur.” Ucap alvin lagi
“Aku suka arsen?” ucapku aneh.
“Iya, habis waktu itu kamu lebih memilih pergi bareng arsen dari pada aku.” ucap alvin kesal, alvin sudah kembali..
“Kapan?” tanyaku sambil berpikir.
“Saat aku mengajakmu nonton pertandingan basket dan si arsen itu baru masuk ke sekolah kita.” ucap alvin, o.. akhirnya aku ingat tapi setelah waktu itu kami masih akrab jadi aku ngak mengira kalau karena itu alvin menjauhiku.
“Waktu itu dia minta tolong aku nemani dia karena dia baru di kota ini jadi belum hapal jalan-jalan di sini.” Jelasku.
“Yah tetap aja kamu milih dia, jadi aku pikir kamu suka dia apalagi kalian semakin akrab jadi aku mau kasih kesempatan pada kalian.” Ucap alvin.
“Dasar ngak peka..” ucapku, alvin menatapku
“Jadi bener kamu sayang aku?” tanya alvin, membuatku sedikit grogi ingat kejadian kemarin.
“Menurutmu?” tanyaku balik, berusaha menetralisir jantungku yang mulai berdetak tak karuan.
“Kalau aku yakin ngak mungkin aku menjauhimu..” ucap alvin lagi.
“kemaren aku kan sudah katakan.” Ucapku mengelak menjawab.
“Tapi aku ingin dengar lagi sekarang.” ucap alvin ngotot.
“Ngak ada siaran ulangan.” Ucapku, lalu hendak melangkah pergi.
“Eh.. mau kemana, urusan kita belum selesai.” Ucap alvin
“Urusan apaan..” ucapku cuek.
“Urusan cinta, aku cinta kamu..” ucap alvin, jantungku berdetak semakin kencang aduh cherise tenang. Aku menatapnya, dia menatapku serius ih.. ngak romantis malah terkesan seram.
“Ada ya.. orang ungkapin cinta dengan wajah seram gitu..” ucapku berusaha menyembunyikan kegugupanku. Alvin tertawa.. aku menatapnya takjub aku selalu suka melihatnya tertawa rasanya semua penuh keceriaan.
“Seram ya..” ucapnya setelah berhasil meredam tawanya. Aku mengangguk, dia senyum lalu..
“Cherise aku cinta kamu, maukah kamu jadi pacarku?” ucap alvin sambil menatapku lembut. Wah ini justru membuatku jadi salah tingkah.
“cher..” ucap alvin melihatku hanya diam.
“Mmm.. iya..” ucapku sambil menunduk rasanya wajahku memanas.
“yuhuu..” ucap alvin kencang aku kaget lalu menaikkan wajahku. Alvin tertawa ceria.
“Alvin..” ucapku meskipun sekolah sudah sepi tapi tetap aja risih dengar teriakannya.
“Jadi sudah sah ne pacaran” ucap andini yang sudah muncul dekat kami, aku kaget dia bareng danar teman alvin.
“Jelas donk..” ucap alvin, ih.. alvin. Jadi andini sengaja ninggalin aku, andini tersenyum sambil memainkan matanya padaku. Oke aku dikerjain rupanya. Tapi enggak apa, karena sekarang aku sudah pacaran dengan alvin hehehe.. Terima kasih Tuhan sudah membawa alvin kembali padaku.
Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar