Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Cerpen - Pertemuan Singkat


Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya, baru saja Netta pindah dari Manado ke Jakarta karena Ayahnya ditugaskan untuk bekerja di sana. Sebenarnya ia merasa keberatan harus meninggalkan kampung halamannya, tapi mau bagaimana lagi jika kenyataannya memang harus begitu.
Netta membuka kaca jendela mobilnya dan melihat ke luar. Hhh, Jakarta macet, begitulah pikirnya. Dia membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi di Sekolah barunya nanti.
“Semoga semua kan baik-baik saja” batin Netta yang kemudian melanjutkan acara melamunnya itu.
15 menit kemudian Netta telah sampai di gerbang sekolah barunya. Dia berjalan melewati lorong-lorong kelas, ternyata tak seburuk yang di pikirkannya, beberapa siswa tersenyum ramah kepadanya. Netta merasa lega.
Sesampainya di depan kelas, Netta masih tidak yakin itu kelasnya atau bukan, dia celingak celinguk dan…
“BRUKK”
Netta terjatuh, dan dia berusaha secepatnya bangkit sebelum menjadi bahan tertawa anak-anak di kelas itu. Saat akan berdiri, seorang laki-laki mengulurkan tangannya untuk membantu Netta berdiri.
“Maaf ya, aku tadi buru-buru dan gak lihat kamu” ucap cowok yang menabraknya tersebut seraya membantu Netta berdiri.
“Iya gak apa apa, makasih ya” Jawab Netta tersenyum ramah pada anak laki-laki tersebut. Sosok tinggi, putih, ganteng juga manis itu berada di hadapan Netta persis.
“Eh, kamu anak baru rupanya, kenalin aku Ryansyah” ucap anak laki-laki tersebut yang ternyata bernama Ryansyah.
“Iya namaku Netta” Netta memperkenalkan dirinya pada Ryansyah. Entah mengapa Netta merasa grogi saat didekat Ryansyah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Suatu kebetulan, Netta duduk di sebuah bangku kosong tepat di sebelah Ryansyah, karena, baru saja anak yang duduk bersama Ryansyah sebelum Netta pindah sekolah. Semua teman-teman di kelas itu tak perlu repot-repot berkenalan dengan Netta, karena jauh-jauh hari sebelumnya guru-guru sudah memberitahukan bahwa akan ada seorang anak baru pindahan dari Manado.
Bel istirahat berbunyi, Netta ingin sekali ke perpustakaan tapi ia tak tau dimana tempatnya.
“Syah, perpustakaan tempatnya dimana ya?” Netta bertanya pada Ryansyah yang sedang asyik ngumpul bareng teman-temannya.
“Enak aja panggil ‘Syah’! Namaku Ryansyah bukan Syah tau!” Omel Ryansyah pada Netta yang sebetulnya hanya bercanda. Netta cemberut mendengar omelan dari Ryansyah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Belum sempat ia pergi, Ryansyah segera mencegah Netta.
“Hey mau kemana? Cuma bercanda kali, gitu aja ngambek! Ayo aku antar, perpus di lantai dua” ajak Ryansyah sembari menarik Netta menuju lantai dua.
Sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar, dengan rak-rak buku yang tertata rapi disana. Banyak juga yang mengunjung perpustakaan saat istirahat ini. Termasuk Netta dan Ryansyah yang menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka bersahabat seperti sudah lama sekali. Ryansyah memang anak yang supel dan mudah akrab dengan orang, karena itu juga dia terpilih sebagai ketua OSIS.
Netta mulai bosan dengan buku bacaanya dan mengajak Ryansyah untuk pergi ke kantin saja. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kantin.
“RYANSYAH!!!” Beberapa anak perempuan berteriak histeris saat melihat Ryansyah, dengan ramahnya Ryansyah mengaggukkan kepala sambil tersenyum.
“Gila, kamu punya banyak fans ya di sekolah ini? Memang kamu artis atau penyanyi?” goda Netta pada Ryansyah yang terlihat malu-malu itu.
“Ahhh… apaan sih kamu, aku sama kok seperti yang lain. Cuma Aku lebih ganteng” Jawab Ryansyah narsis.
Jam pelajaran telah usai, Ryansyah mengantarkan Netta pulang karena memang jalannya searah dan sebagai langkah awal persahabatan mereka katanya. Selama di perjalanan, mereka bercanda hingga satu pernyataan aneh terlontar dari mulut Ryansyah.
“Netta, andaikan nanti aku mati kita bakalan tetap bersahabat kan? Kamu jangan lupa sama aku”
Netta tertegun mendengarnya. Apa maksudnya? Tapi Netta mencoba untuk berpikir positif dan menganggap omongan Ryansyah hanya bercanda.
Malam itu, Netta kepikiran terus dengan Ryansyah. Dia merasa gelisah. Apa yang terjadi pada sahabat barunya tersebut? Netta mencoba untuk menghubunginya tapi hasilnya nihil! Handphonenya tidak aktif, dengan terpaksadia harus sabar menunggu hari esok untuk mengetahui keadaan Ryansyah sebenarnya. Netta menghempaskan tubuhnya di atas kasur nya. Dia berharap waktu berjalan lebih cepat!
Keesokan harinya, Netta buru-buru lari menuju sekolah, hari ini dia jalan kaki karena supir pribadinya sedang sakit. Dia tertegun ketika melihat hampir semua teman-temannya memasang wajah sedih, dan tak jarang juga yang menangis!
“Chels, ada apa ini?” Tanya Netta pada Chelsea teman barunya. Chelsea menangis sesenggukkan.
“Ryansyah Netta, Ryansyah… Kemarin saat pulang sekolah, Ryansyah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia”
Deg! Netta seperti tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan Chelsea. Jantungnya serasa ditusuk-tusuk seribu jarum. Mengapa? Sahabat sekaligus cinta pertamanya yang sangat ia sayangi pergi secepat itu? Ternyata, kemarin adalah hari pertama sekaligus yang terakhir Netta bertemu dengan Ryansyah. Sungguh tak terbayang sebuah persahabatan singkat berakhir dengan tragis.
Cerpen Karangan: Diah Retno Anggraini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - You Are Inspiration in My Life


“Fyuuh… hari yang melelahkan” Keluhku melepas penat setelah bersekolah, bimbel dan les Bahasa Inggris dalam waktu sehari. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki garasi rumah, kuintip melalui jendela rumah dan ternyata itu adalah ayah.
“Ayaaah…” Aku dan adikku berteriak menyambut kedatangan ayah sambil menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
“Mama mana?” Tanya ayah.
“Mama ada di kamar, beliau sedang sakit” Jawabku dengan nada sedih.
Di Kamar…
“Mama kenapa?” Tanya ayah.
“Kepala mama pusing dan mulut mama pahit” Jawab mama lemas.
“Ya udah sekarang ke dokter aja yuk” Ajak ayah.
“Nggak usah yah, sakitnya nggak terlalu parah kok” Tolak mama.
“Ya udah sekarang ayah makan dulu ya… maaf mama hari ini hanya masak tempe goreng, itu pun gosong” Lanjut mama.
“Mama sekarang istirahat dulu ya” Kata ayah. Mama hanya mengangggukkan kepala.
Di Ruang Makan…
“Ayah kok makan tempe itu sih?, tempe itu kan gosong, aku aja nggak mau makan!” Tanya ku. Ayah hanya tertawa.
“Kok ayah ketawa sih?” Tanya ku lagi.
“Mba’ semua yang kita dapatkan harus disyukuri, coba kamu lihat di TV atau di pinggir jalan orang-orang yang pekerjaanya hanya mengamen dan meminta-minta, belum tentu mereka bisa makan, sekarang coba kamu rasakan makanan ini pasti rasanya berbeda” Jawab ayah. Kemudian kumakan tempe itu, aku merasa, rasa tempe itu agak aneh tapi enak juga.
“Wah… enak juga ya yah rasanya” Kataku.
“Karena mama memasaknya dengan tulus dan dengan kasih sayang” Kata ayah.
Beberapa jam kemudian…
Kulihat ayah tidak langsung tidur. Beliau sedang menulis kejadian hari ini di blognya “I’am ordinary people with extra odinary (Doddy Agustian).
Thank you
Cerpen Karangan: Sierra Aulia Shabihah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Berburu Coklat


Pada suatu hari, ada seorang anak bernama Alika Asyasshari atau yang disebut Alika. Alika mempunyai 2 orang adik, adik pertamanya bernama Feonie Asyasshari dan adik keduanya bernama Zikha Asyasshari.
“Huh… bosan!!!” Gerutu Alika pada hari minggu yang cerah.
“Kak Alika, kakak kenapa sih?” Tanya Zikha yang menghampiri Alika di sofa sambil membawa pensil di tangannya.
“Enggak apa-apa kok! eh, kamu lagi ngapain? Kok bawa pensil segala?” Tanya Alika penasaran.
“Itu lho kak, kan aku sama Zikha lagi bikin peta harta karun, nanti ada lawannya, kalau lawannya sudah kalah, nanti dapat hadiah coklat oleh-oleh ayah dari Samarinda. kakak mau ikutan?” Kata Feonie yang tiba-tiba muncul.
“Boleh, daripada gak ada kerjaan!” Kata Alika sambil tersenyum.
Alika pun segera mengambil pensil dan mulai menggambar peta di kertas.
Setelah 4 halaman, mereka pun segera menggulung petanya lalu mengikatnya dengan karet atau tali rafia. setelah itu peta pun dikocok, lalu mereka mengambilnya satu-satu lalu membukanya. setelah peta habis, mereka mengumpulkan hasil permen mereka untuk dihitung. “Kak Alika 8 coklat, Aku 12 coklat, dan Zikha 11 coklat. berarti aku yang menang!!!” Kata Feonie senang. Mereka pun memakan coklat itu bersama-sama.
Sementara itu, Bunda yang baru pulang dari pasar langsung memarahi kami karena kami membuang sampahnya sembarangan. Hehehehe
Cerpen Karangan: Layra Azkadzkiya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Siang Itu Masih Berbekas


“Umi jahat! Umi gak sayang sama Meta!” begitulah kata Meta dengan nada tinggi sambil membanting pintu kamarnya. Entah perasaan apa yang berrkelebat di benaknya hingga ia menaikkan nada suaranya sampai tiga oktaf yang ia senandungkan untuk ibunya. Dia tahu ini tidak pantas, tapi ini sudah terlanjur. Lagipula hatinya belum mau mengakui kesalahan yang keluar dari lidahnya. Sebelumnya, dia tidak pernah semarah ini kepada siapapun apalagi kepada ibunya. Dia tidak mau kehilangan surga di telapak kaki Umi. Tapi kali ini Umi sudah keterlaluan yang membuat darah Meta mendidih.
Meta sadar, dia tidak mau larut dalam amarahnya dan mencoba membendung air matanya yang sepertinya hampir tumpah melengkapi pergolakan jiwanya. Dia beusaha untuk menenangkan dirinya dan memuntahkan segala unek-unek yang tak pernah sanggup dia muntahkan sembarangan karena dia sadar bawa setiap pasang mata yang dia jumpai belum tentu rela menjadi kantong kresek untuk menampung muntahan unek-uneknya. Tiba-tiba dia punya ilham untuk menenangkan jiwanya. Musik! Ya musik! barangkali musik mampu menjadi bius lokal bagi jiwanya yang bergolak merintih kesakitan. Dan, tanpa pikir panjang, dia menyabet MP3 di meja belajarnya lengkap dengan headset yang mampu menjaga rahasia dibalik irama-irama yang mengalun syahdu. Meta ingin hanya telinganya saja yang mendengar irama-irama itu, walau dia tahu bawa itu mustahil karena Tuhan tak pernah tuli, walau suara dengan getaran kurang dari 20Hz sekalipun, Tuhan pasti mendengar. Apalagi suara yang tadi dia alamatkan kepada Uminya. Barangkali semut-semut yang ada di lantai rumahnya pun mendengar.
Dia hidupkan MP3 itu, dia pencet-pencet semau jari-jarinya. Dan ketika jari-jarinya berhenti untuk mencet-mencet tombol di MP3 itu, sebuah lagu yang bejudul “Bunda” pun mengalun dengan syahdu. Kali ini, bendungaan di kelopak matanya telah jebol. Dia menangis, tapi dia tak mau orang lain mendengar tangisannya, termasuk umi.
Di antara barang-barang yang berhamburan yang jatuh di mata hitamnya, dia menemukan sesuatu yang sangat ingin ia hampiri dan dia buka-buka. Sepertinya ada seseorang yang memencet tombol pause yang membuat yang membuat pikiran Meta tertuju pada suatu benda yang orang memenggilnya dengan sebutan ‘album foto”. Dengan tangan yang gemetaran dia pelan-pelan membuka album itu. Dia tatap setiap gambar-gambar yang mengisahkan masa lalunya, masa lau bersama ayah, kakak dan… Umi. Walau sampul album foto itu tidak berwarna biru seperti penggalan lirik lagu yang sedang dia dengarkan, tapi satu titik di relung sukmanya merasakan haru biru. Apalagi ketika dia menatap sebuah hasil jepetan yang berdasarkan akal sehat pasti berrnama “sepeda”. Kemudian, ia coba kumpulkan serpihan-serpihan kenangannya dengan sepeda itu.
Kala sang surya memancarkan radiasi ke bumi ini, meta tak kuasa menghindar dari pancaan sinar kehidupan yang membaka suasana siang itu. Tidak ada sedikitpun titik kelabu di langit nan biru walau domba-domba bertebaran seperti membentuk rasi bintang saat mentari belum berniat untuk pulang. Tiada sesuatu yang spesial di siang itu, Meta masih merasa siang itu adalah siang yang datar, sedatar hidupnya yang tak juga merasakan pasang atau surut terus. Mungkin karena Meta tak pernah berada di tepi laut kala bulan menyambangi malam atau kala surya terang benderang. Hidup boleh dikatan sama dengan laut. Laut terhampar luas tiada berujung, terus bersambung dan, hidup itu panjang, walau berujung kematian. Namun, bukankah hidup itu kelak abadi di alam yang abadi pula? Yang perlu kita lakukan untuk mengarungi gelombang hanyalah, hadapi! tapi bagaimana Meta mau meenghadapi gelombang kehidupan kalau dirinya sama sekali belum pernah berpapasan. Meta ingin merasakan gelombang itu. Tapi bagaimana caranya?
Bel telah berbunyi dan tanap harus mengucapkan kata-kata semua murid sudah mampu mencerna apa yang bel itu maksud termasuk Meta. Dia bergegas meninggalkan kelas 3 yang ia singgahi selama hampir 1 tahun. Dia merasa bahagia karena tes akhir semester telah usai. Itu berarti dia tak perlu belajar dengan porsi seperti beberapa hari yang lalu sampai kemarin. Tanpa mau membuang-buang waktu, Meta segera mengambil sepedanya yang ia parkir di samping parkiran guru dan menggowesnya dengan semangat ’45. Melewati jalan raya yang sesak akan kepulan asap-asap kendaraan bermotor. “Uhuk!uhuk!” Meta berbatuk-batuk ketika dia berada persis di belakang motor 2 yang tak mampu diajak ngebut lagi. Meta sabar menanti belokan tegang menuju rumahnya. Setelah sepedanya berjalan kalem sejauh 200 meter, gang itupun memeberi ucapan selamat datang dan di satu sisi tugu itu, masih terlihat jelas angka 17 dan 8 namun ‘45nya sudah tidak jelas karena kapilaritas. Dan semangat Meta untuk bertemu gelombang kehidupan, melengkapi angka ’45 yang buram itu dan… merdeka! Kali ini hati Meta benar-benar merdeka.
Ketika raga dan sepedanya sudah berada di depan pintu rumahnya, Meta mendengar telepon berdering dari ruang keluarga. Dia meletakkan sepedanya begitu saja di samping jendela dan berlari sambil mengucapkan assalamu’alaikum! tanpa mengharap jawaban dari siapapun. Dia sudah tidak peduli lagi siapa yang akan menjawab salamnya itu, entah umi, semut-semut, lalat-lalat, atau mungkin malaikat. Dia tidak menghitung beberapa kecepatan berlarinya, kelajuannya, percepatannya. Yang dia tahu hanyalah mengangkat gagang teleponnya. Dia tak peduli siapa saingannya, pokoknya suaranya harus terdengar pertama kali oleh si penelepon. Dia tidak peduli penelepon mengalamatkan panggilannya itu. Yang sudah pasti bukan dirinya. Yang penting Meta yang pertama. Dasar anak kecil!
Petak demi petak keramik telah dia lewati. Dia menganggap lantai di seluruh sudut rumahnya itu sejajar, lurus. Padahal… Bruk! Meta lupa bahwa ada bagian dari lantai rumahnya yang membentuk lipatan yang mampu membuat patahan di jidat dekat rambutnya. Ia tersandung lipatan itu dan terjatuh lunglai sebelum mencapai titik finish. Ada rasa pening dan perih yang menggerogoti tubuhnya yang lunglai. Dia belum mengetahui bagaimana kondisi terakhir tubuhnya, adakah luka di tubuhnya? Jika ada, seberapa parahkah luka itu?
Meta merasakan kesakitan jidatnya lebih dari bagian tubuh yang lain. Jari-jari kecilnya dengan tergopoh-gopoh berusaha mendekati jidatnya itu, dengan hati-hati dia meraba jidatnya. Dia mendapati sebuah goresan di jidatnya. Seberapa dalam dan panjang goresan itu? Mengapa goresan itu menangis? Dan ketika Meta menyentuhkan tangannya di sekitar goresan itu untuk dia bawa ke depan kedua matanya, kedua mata Meta tertular tangisan di jidatnya itu. Ada tiga sumber yang mengeluarkan cairan, dia tahu betul nama-nama cairan itu. Cairan yang keluar dari kedua matanya itu bernama air mata. Dan cairan yang keluar dari robekan di jidatnya itu bernama darah! Oh tidak! Meta takut melihat darah meski kalau ditanya “Mau jadi apa kamu kalau sudah besar?” Meta selalu menjawabnya “Mau jadi dokter!”
“Ha! Darah! Umi!” Meta memanggil-manggil uminya dengan tangisnya yang menderu melebihi dering telepon di ruang keluarga dekat TKP. Saat Umi akan mendekati Meta dering telepon itu sudah enggan memanggil-manggil. Dan ketika Umi melihat kondisi anak perempuan satu-satunya itu, wajah umi pucat pasi tak kalah pucat dengan wajah Meta. Bagaimana mungkin seorang ibu tak menderita jika anaknya menderita. Umi bergegas menghampiri kotak P3K di dinding menuju dapur, dan diambilnya perban dan mitela untuk membalut luka Meta. Setelah luka di jidat Meta terbalut Umi bergegas menstarter motor untuk membawa Meta ke dokter. Yang tadi itu hanya pertolongan pertama.
Umi seperti ingin menguntir gasnya sampai batas kecepatan tertinggi. Tapi Umi sadar, ini Negara hukum. Sebagai warga Negara yang baik, seharusnya Umi juga harus baik berlalu lintas. Tidak seenaknya. Tidak berselang lama setelah itu, motor yang mereka naiki berhenti di sebuah klinik bernama “Kasih Ibu”.
Di dalam klinik itu, jidat Meta mendapat jahitan tiga. Meta menangis sejadinya mencoba membebaskan rasa takutnya. Sebenarnya dokter telah membius Meta, tetapi melihat jarum yang keluar masuk kulit keningnya untuk menutup luka itu, tangis Meta semakin menjadi. Umi memeluk Meta dengan penuh kehangatan. Hati Meta merasa tentram dan seperti berada di rerimbunan ilalang tanpa ada yang mengusiknya.
Meta terbangun dari lamunannya. Dia menyadari ibunya begitu menyayanginya. Dia harus meminta maaf atas kekhilafannya tadi. Meta dengan antusias mencari Uminya dan dia menemukan Umi di ruang keluarga. “Umi, maafin Meta!” Meta meletakkan kepalanya di dada Umi dan meletakkan tangannya di punggung Umi. Umi juga memeluk Meta. Peluk Umi hangat sekali. Sehangat pelukannya dahulu ketika jidatnya dijahit, lukanya ditutupi. Meta mencoba menutupi luka umi dan menjahit keakraban di antara mereka dengan permintaan maaf ini.
Seharusnya, Meta tidak serta merta marah kepada umi. Hanya karena umi tidak mengizinkan dia menonton konser boyband kesukaannya, sedangkan kakaknya diperbolehkan. Paling tidak, mereka berjalan seperti semula. Dan Meta masih merasakan bekas siang itu di pelukan Umi.
Cerpen Karangan: Raisa Arum Azimah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Sahabat Tapi Kembar


Teettt… Teettt… Teettt… Bel tanda masuk SDS Terpadu Cahaya Nur berbunyi, Murid-murid pun segera masuk ke kelas masing-masing, termasuk Lista Andani atau yang biasa dipanggil Lista. Lista segera masuk ke kelasnya, yaitu kelas 5-A.
Saat di kelas, sambil menunggu Bu Rena masuk, Lista membuka buku pelajarannya. Tiba-tiba, Bu Rena masuk sambil menggandeng anak yang sangat mirip dengan Lista. Semua anak terkejut, termasuk Lista dan anak baru itu sendiri juga terkejut. Bu Rena hanya tersenyum. “Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru, namanya Listy Andini. Nah, Listy, silahkan kamu duduk di sebelah Lista Andani.” Jelas Bu Rena kepada Murid-muridnya. Listy mengangguk dan segera duduk di sebelah Lista.
Saat istirahat, Lista mengajak Listy berkenalan. “Hai Listy, perkenalkan, namaku Lista Andani, kita berteman ya…” Kata Lista kepada Listy. “Hai juga, perkenalkan juga namaku Listy Andini. ok, kita berteman. oh iya, ngomong-ngomong kita mirip banget ya… dari wajahnya, namanya dan lainnya.” Kata Listy. “Hehehe… iya juga ya, sudahlah, bagaimana kalau kita ke kantin?” Ajak Lista. Listy hanya mengangguk tanda setuju.
Di kantin, Lista memesan Mie ayam bakso dan jus jambu, Listy memesan siomay komplit dan lemon tea. setelah memesan, mereka segera duduk sambil mengobrol sambil menunggu makanan dan minuman mereka datang. setelah datang, mereka segera menyantap pesanan mereka.
Sepulang sekolah, Lista mengajak Listy main ke rumahnya. Listy setuju dan segera menelepon kedua orang tuanya untuk meminta izin. setelah diperbolehkan, mereka segera ke rumah Lista naik sepeda mereka masing-masing.
Di rumah Lista mereka disambut oleh bunda Lista. Bunda Lista sangat terkejut melihat wajah Listy yang sangat mirip dengan Lista. “Maaf nak, siapa namamu?” Tanya bunda Lista kepada Listy. “Nama saya Listy Andini tante…” Jawab Listy. Lantas setelah itu, bunda Lista langsung memeluk Listy. Lista dan Listy sangat terkejut. “Kalian pasti terkejut kan? sebenarnya, Listy adalah adik kembarmu Lista. Waktu lahir, Listy mengalami sakit yang harus jauh dari saudara kembarnya, karena jika tidak, maka akan berakibat fatal!” Jelas bunda Lista. Mereka pun terkejut mendengarnya. Tiba-tiba, orang tua Listy datang dan menjelaskan yang sebenarnya. Mereka lalu saling berpelukan
Cerpen Karangan: Zahra Tsaniatun

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Sepeda Kecilku


Hai, nama ku Octya Celline, kalian dapat memanggilku Selin atau Line. Sekarang aku berada di kelas X SMA Frater Don Bosco Banjarmasin. Dimasa SMP, sehari-harinya aku pergi ke sekolah menggunakan sepeda. Sepeda ku menjadi teman sejati yang selalu setia mengantarkan aku ke tempat mana pun yang ingin ku tuju. Masih teringat di benakku, saat pertama kalinya ibu membelikan sepeda baru buatku. Saat itu diriku masih berumur 7 tahun, ibu membelikan sepeda yang memiliki roda tambahan di sisi kiri dan kanan nya. Kalau diingat lagi, diriku saat berusia 7 tahun sangat gigih dalam belajar bersepeda. Saat pertama menaiki sepeda itu diriku merasa sangat takut, tetapi setelah kukayuh kedua pedalnya. Takut ku berangsur-angsur menghilang dan tergantikan dengan rasa gembira. Betapa bodohnya diriku saat itu, aku berpikir sudah mahir bersepeda. Padahal, sepeda itu bisa berjalan seimbang karena ada 2 roda kecil yang terpasang disisi kiri dan kanan nya. Aku menyombongkan kemahiran bersepedaku pada tetangga yang berada tepat di sebelah rumahku. Tanpa mengetahui bahwa sepeda yang mahir ku naiki adalah sepeda yang beroda 4, dia mempercayai semua cerita ku dan mengajakku untuk balapan sepeda dengannya. Aku dengan senang hati menerima tantangan itu.
Hari minggu pun tiba, saat nya untuk balapan dimulai. Dan saat aku mendorong sepeda ku keluar dari rumah, tetangga ku spontan tertawa terbahak-bahak. Aku bingung dan bertanya padanya “hei, mengapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu?”. Dia menjawab dengan tertawa “hahaha, ku kira kau sangat cerdas hingga dapat mengendarai sepeda hanya dengan sekali latihan. Ternyata sepeda yang kau kendarai memiliki roda tambahan, hahaha”.
Aku masih tidak mengerti, dan malah semakin bingung. Aku kembali bertanya “memangnya kenapa? Bukankah semua sepeda seperti ini?” tetangga ku balas menjawab “coba kau lihat sepeda milik mu dan sepeda punya ku. Apakah ada yang berbeda?”. Kupandangi sepeda nya dengan sesakma. setelah puas menatap sepedanya, kulemparkan tatapan ku menghadap sepeda milikku. Dan sesaat kemudian ku sadari bahwa sepeda miliknya tak memiliki 2 roda tambahan seperti sepeda milikku, apa lagi sepedanya tidak berdiri tegak seperti milikku. Sepeda miliknya terlihat lebih condong ke kiri. Dia berkata sambil tersenyum kecil “nah, sekarang kau sudah tau kan apa beda sepeda kita?”. Oh, malunya diriku. Dengan wajah tersipu kujawab pertanyaannya “ya, aku sudah tau perbedaannya”. Akhirnya kami membatalkan balapan itu dan memutuskan untuk bersepeda santai bersama.
Sepulang dari bersepada, aku meniatkan diri untuk dapat mengendarai sepeda tanpa bantuan 2 roda kecil yang dimiliki sepedaku. Aku memohon pada ibu agar 2 roda kecil itu dilepaskan dari sepeda ku, tapi ibu menolak dan menawarkan agar aku belajar secara bertahap. Ibu cuma memperbolehkan sepedaku kehilangan 1 roda kecil. Akhirnya aku menurut, ternyata sepeda roda 3 lebih mengasyikan daripada sepeda roda 4. Walau jalannya selalu condong ke arah yang terdapat roda kecil, tapi cara ini sangat ampuh. Selama belajar bersepeda menggunakan sepeda roda 3 aku tak pernah terjatuh, hingga roda ke 3 dilepaspun aku tetap tiada terjatuh. Banyak teman yang tidak percaya dengan ceritaku mengenai pengalamanku belajar sepeda tanpa terjatuh, tetapi tetanggaku menjadi saksi hidup yang senantiasa bercerita tentang pengalamanku ini apabila ada teman yang tidak percaya mengenai cerita ini.
Setelah mahir bersepeda, aku sering sekali bersepeda untuk sekedar jalan-jalan di sore hari. Entah mengapa dan sejak kapan, aku mulai meninggalkan kebiasaan itu dan beralih ke permainan yang berkutat di dunia maya. Ya, aku mulai gemar bermain PS. Sepedaku pun tak tersentuh lagi, hingga berkarat dan menjadi sangat kecil untuk ditunggangi. Menaiki sepeda tak pernah terpikirkan lagi, hingga pada saat aku menginjak bangku kelas V SD dan rumah ku tertimpa bencana kebakaran. Semua perabotan rumah termasuk sepeda tuaku ikut terbakar. Aku sangat sedih karena kehilangan rumah yang kutinggali dari kecil dan kehilangan sepeda tuaku.
Kami mengontrak rumah kecil dan memulai semuanya dari nol. setiap harinya aku pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki karena biaya dipusatkan untuk membangun rumah baru di tanah bekas kebakaran tersebut. Karena hal ini aku tidak bisa pulang pergi ke sekolah menggunakan jasa angkutan.
Tak terasa 2 tahun telah berlalu dan rumah baruku selesai dibuat. Kami pindah ke rumah baru dan saat itu aku sudah berada di bangku SMP. Mulanya saat berada di bangku kelas VII SMP, aku pulang pergi ke sekolah diantar menggunakan becak. Aku merengek kepada ibu agar dibelikan sepeda baru lagi, karena malu diantar jemput menggunakan becak. Tetapi ibu menolak, karena takut aku menelantarkan sepedaku lagi. Tetapi proses antar jemput menggunakan becak ini cuma bertahan selama 1 bulan, karena setelah dihitung-hitung ongkos yang dikeluarkan lebih mahal dari pada membeli sebuah sepeda baru yang kuinginkan. Akhirnya ibu membelikan sepeda baru yang ku idam-idamkan, sepeda itu bermerek Phoenix yang saat itu sedang ngetren-ngetrennya. Aku dengan gembira mengayuh sepeda baruku menuju sekolah. Betapa bangganya diriku ketika mengetahui bahwa di sekolah tiada teman yang memiliki sepeda seperti type milikku. Kehidupan sekolahku terasa begitu mengasyikan setelah sepedaku hadir. Aku menjadi mudah untuk mengikuti beragam extrakulikuler. Dulu saat masih jalan kaki atau diantar menggunakan becak, aku menjadi malas untuk mengikuti beragam extrakulikuler. Bagaimana tidak malas? Untuk ke sekolah saja aku harus menempuh waktu 20 menit apabila jalan kaki dan harus menahan malu apabila naik becak. Tetapi tidak perlu malu dan memakan waktu lama apabila menggunakan sepeda.
Pengalaman lucu pun pernah kualami bersama sepedaku, saat itu aku bersama teman-teman pulang dari les privat. salah seorang temanku mejumping sepedanya hingga sepeda itu berdiri cuma dengan satu roda dan dia bisa membuat sepeda itu berputar tanpa terjatuh. Teman yang lain memberikan tepuk tangan meriah dan pujian yang tiada habisnya. Aku merasa kalau hal itu tidak sulit untuk dilakukan, dan berkata “aku juga bisa kalau cuma seperti itu, malahan aku bisa membuat sepeda ku jungkir balik dalam keadaan aku mengendarainya”. Teman-teman menatapku dengan tatapan tidak percaya dan meraka seraya berteriak “Ayo buktikan”. Aku tanpa takut mencoba hal yang tidak pernah kucoba selama aku mengendarai sepeda. Aku mengayuh sepedaku dengan cepat dan saat kurasa cukup cepat, aku merem sepedaku secara mendadak dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Sialnya, aku tidak memperhatikan kalau tepat di belakang ku ada got yang penuh dengan lumpur. Saat ku angkat sepedaku setinggi mungkin, aku kehilangan keseimbangan dan byurrr, tubuhku basah tercebur ke got yang penuh lumpur dan sepedaku jungkir balik tak karuan di sebelahku. Seraya teman-temanku tertawa. Salah seorang temanku mengejekku dengan berkata “hahaha, hebat Line, kamu bisa bikin sepedamu jungkir balik tapi sayangnya kamu tidak dalam keadaan mengendarai sepedamu seperti yang kamu bilang. Yang lebih hebat lagi kamu malah mandi air got yang wangi itu. Hahahaha”.
Malu bercampur rasa lucu pun terlintas dikepala ku. Teman-teman ku mendekat dan menolongku. Yah, walaupun mereka semua menjepit hidung menggunakan kedua jarinya aku tetap bersyukur karena mereka tidak meninggalkan ku sendirian disana. Akhirnya kami semua pulang dengan tertawa. Mulai hari itu aku tidak sembarangan bicara lagi, aku takut mendapat malu lagi karena tidak dapat membuktikan semua omonganku.
Pengalaman yang paling sial pun pernah kualami bersama sepedaku, saat itu ibuku pergi ke Surabaya untuk menjalani operasi ginjal. Aku ditinggal sendiri di rumah selama 1 bulan lebih, sejak ditinggal sendiri di rumah aku terbiasa bangun pagi dengan bantuan jam Weker. Entah mengapa, malam itu aku sangat capek dan lupa menyetel jam Weker. Keesokan paginya, aku bangun jam 9, betapa terkejutnya diriku saat melirik jam yang terpajang di dinding. Aku segera meluncur mengambil seragamku, kepalaku kosong. Aku tak terpikir lagi untuk menggosok gigi, mencuci muka atau menyisir rambut dan menggunakan deodorant, hal yang penting saja tak terpikirkan apalagi berpikir untuk makan pagi. Untungnya, tadi malam aku sudah menyiapkan mata pelajaran untuk hari itu. Sialnya, baju seragamku belum disetrika dan sepedaku bannya kempis. Lengkaplah penderitaanku, tapi hal ini tak membuat ku malas pergi ke sekolah karena hari itu ada ulangan IPS dan aku sudah susah payah belajar semalaman. Kukayuh sepedaku dengan cepat, tapi jalannya sangat lamban karena bannya yang kempis. Semangatku tiada pupus, tetap ku kayuh sepeda itu hingga sampai ke sekolah. Kesialan kembali menimpaku saat satpam sekolah tak memperbolehkan aku memasuki wilayah sekolah sebelum berdiri di depan tiang bendera selama 1 jam pelajaran. Pupus lah sudah harapan mengikuti ulangan IPS, selama 1 jam hatiku terus menggerutu dan mengutuki keteledoranku. Akhirnya 1 jam berlalu dan aku diperbolehkan memasuki wilayah sekolah.
Saat aku berjalan menyusuri lorong menuju kelas aku berpapasan dengan guru IPS ku, aku menyapa dan bertanya “bu, kenapa Cuma mengajar 1 jam? Bukannya masih ada 1 jam lagi?”. Lalu guruku pun menjawab “oh iya, tadi ulangannya selesai dalam 1 jam. Karena materi semester 1 sudah habis, ibu memberikan waktu 1 jam buat kalian untuk mempelajari materi semester 2. Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak ikut ulangan?”. Pertanyaan yang tidak ingin ku dengar terlontar juga dari mulut guruku. “saya telat bu, pak satpam tidak memperbolehkan saya memasuki wilayah sekolah sebelum berdiri di depan tiang bendera selama 1 jam pelajaran bu” jawab ku lesu. “oh begitu, lain kali jangan telat lagi ya. Kamu nanti ikut ulangan susulan saja di kantor. Ibu tunggu istirahat” kata guruku. “iya bu, terima kasih bu” jawab ku. Guru ku tersenyum dan berjalan menuju kantor. Aku dengan lunglai meneruskan jalanku menuju kelas.
Sesampainya di kelas seorang teman menghampiriku dan betapa malunya aku saat dia berkata “line, kok kamu bau sekali? Kamu dari mana sih?”. Aku cuma diam dan berjalan melaluinya. Bayangkan saja, sudah tidak mandi, gosok gigi, cuci muka, dijemur di depan tiang bendera lagi. Bagaimana tidak bau?.
Istirahat pun tiba, aku segera menemui guru IPS ku untuk mengikuti ulangan susulan, karena aku mengikuti ulangan susulan otomatis aku tidak dapat mengisi perut kosongku di kantin. Betapa laparnya diriku, tapi tetap ku paksakan untuk mengikuti ulangan susulan karena prioritas utama ku hadir ke sekolah untuk mengikuti ulangan IPS. Rasa lapar kutahan dengan pikiran istirahat ke 2 aku dapat makan ke kantin sepuas-puasnya, untungnya istirahat ke 2 aku masih kebagian tempat untuk menyantap makanan sebanyak-banyaknya.
Seharian aku diam saja dan tak mengangkat tangan walau aku mau bertanya dan mau menjawab, karena aku takut teman-teman mencium bau tak sedap yang keluar dari mulut dan ketiakku. Akhirnya saat pulang yang kutunggu-tunggu pun tiba dan aku segera berlari menuju parkiran sepeda. Segera kukayuh sepedaku dan betapa bodohnya diriku karena melajukan sepedaku di atas aspal yang berbatu dan membuat bannya bocor saat itu aku baru teringat bahwa ban sepedaku kempis dan harus dipompa. Dengan wajah masam dan hati marah ku dorong sepeda ku hingga menemukan sebuah bengkel. Untungnya, penambalan ban sepedaku cuma memakan waktu 15 menit dan cuma mengocek uang sebesar Rp 3.000. Aku kembali melajukan sepedaku. Ternyata kesialan masih berpihak pada ku, saat ingin menyeberangkan sepeda ku ke seberang jalan tiba-tiba sebuah truk lewat dengan begitu cepat dan membuat aku terkejut sehingga oleng dalam mengendalikan stang sepedaku. Yang lebih sial lagi, ternyata di sisi jalan ada genangan air kotor dan aku terjatuh kedalam genangan itu. Hatiku cuma dapat menggerutu “tadi pagi kau tak mandi, lihatlah kini jalan memandikanmu”.
Cerpen Karangan: Octya Celline

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Sahabat Jadi Cinta


Hay kenalin namaku Zahra Indri, biasa dipanggil Zahra. Aku punya kakak bernama Doni Saputra, aku juga punya sahabat namanya Ilham fauzi. Dia tuh orangnya baik banget, aku sebenarnya sudah suka sama ilham tapi aku gak mau merusak persahabatan ini hanya karena perasaanku. aku sudah bersahabat sudah cukup lama hampir 6 tahun. Sekarang aku dan ilham kelas 3 SMA.
“dek bangun udah ditungguin sahabatnya tuh” kata kak doni
“iya sebentar kak aku lagi siap-siap nih” jawabku
Setelah selesai aku turun untuk menemui ilham yang sedari tadi menungguku
“hay ndut” sapaku ke ilham *ilham biasa ku panggil ndut, karena badannya yang agak gendut
“hay juga sipit” katanya *ilham juga sering memanggilku sipit, karena mataku yang agak sipit
“maaf ya nunggu lama, ya udah yuk berangkat” kataku
Sampai sekolah
“ilham…” teriak seorang cewek memanggil ilham
“eh sophi. ada apa?” tanya ilham, sophi adalah teman sekelas ilham
“anterin aku ke perpus yuk” kata sophi
“ya udah yuk” jawab ilham menggandeng tangan sophi dan pergi gitu aja gak memperdulikanku yang dari tadi di kacangin.
Ya sudah aku masuk aja ke dalam kelas, aku dan ilham berbeda kelas.
Dikelas
“kenapa kamu ra, baru dateng udah cemberut aja” tanya laras teman sebangku ku
“gak papa, aku kesel aja masa tadikan sophi manggil ilham ngajakin ke perpus, ehh aku ditinggal sendirian malah gandengan tangan lagi” kataku kesal
“ciyee cemburu ya” ledek laras
“enggak sih” kataku
Diperpus Ilham dan Sophi
“phi..” panggil ilhamke sophi yang lagi baca buku
“kenapa ham?” tanya sophi
“Aku boleh minta tolong gak?” tanya ilham
“tolong apa?” tanya sophi
“aku lagi suka sama sahabatku udah lama, mungkin sekarang udah dibilang cinta, tapi aku takut untuk ngungkapinnya. takut merusak persahabatan ini yang udah lama” kata ilham
“oh sahabat kamu yang tadi?” tanya sophi
“iya, kamu mau gak bantuin aku?” tanya ilham
“tenang aja pasti aku bantuin, tapi ada syaratnya” kata sophi
“apa syaratnya?” tanya ilham
“comblangin aku sama kakak kamu” kata sophi
“Rafi maksud kamu?” tanya ilham
“iya lah siapa lagi kalau bukan dia, mau gak?” tanya sophi
“ok, kaya gitu doang gampang. kakak aku juga suka sama kamu” kata ilham
“ok..” kata sophi
istirahat
“ra kantin yuk” ajak laras
“Engga deh, lagi gak mood” kataku
“oh ya udah deh aku duluan ya” kata laras
“iya” kataku
Setelah laras keluar, sophi masuk dan menghampiriku
“kamu yang namanya zahra ya?” tanyanya
“iya” jawabku “ada apa?” tanyaku
“aku Cuma mau ngobrol aja, boleh gak?” tanya sophi
“boleh kok” jawabku
“emmm.. aku mau minta pendapat nih sama kamu, kalau misalkan ada sahabat kamu yang suka sama kamudan menginginkan kamu menjadi kekasihnya, kamu bakal terima dia atau enggak?” kata sophi
“kalau menurut aku, kalau akunya juga suka sama dia aku bakal terima dia, tapi kalau aku gak suka sama dia aku bakal omongin baik-baik sama dia biar tetap jadi sahabat aku” kataku yang memberi pendapat ke sophi
“kamu gak akan marah kalau sahabat kamu menyukai kamu lebih dari sahabat?” tanya sophi
“buat apa marah. walaupun sahabat aku menyukai aku tapi itu gak akan merusak persahabatan aku sama dia. emg kenapa sih kok kamu nanya kaya gitu?” tanyaku yang mulai curiga
“gak papa kok, ntar pulang sekolah ada acara gak?” tnya sophi
“gak ada, memang kenpa?” tanyaku
“temui aku di cafe depan sekolah” kata sophi dan berlalu pergi meninggalkan ku
“aneh” kataku
Di kelas sophi dan ilham
“ilham nanti pulang sekolah kamu ke cafe depan sekolah ya” kata sophi
“ada apa memangnya?” tanya ilham
“itu kesempatan kamu buat ngungkapin perasaan kamu sama zahra” kata sophi
“udah kamu kesana aja, ok” kata sophi
“ok deh, oh iya ntar pulang sekolah kamu ditunggu abang aku di cafe depan sekolah juga” kata ilham
“oh, oke thanks ya” kata sophi “sama-sama” kta ilham
pulang sekolah
“oh iya tadikan aku disuruh ke cafe depan sekolah, langsung kesana aja deh” kataku dan langsung pergi ke cafe depan sekolah
Di cafe
Aku ambil tempat duduk paling pojok sebelah kiri dekat panggung cafe itu. Tiba-tiba ada ilham yang berdiri diatas panggung
“check.. check, mohon perhatian saya disini akan menyanyikan sebuah lagu untuk sahabatku, zahra” kata ilham
Ilham mulai menyanyikan sebuah lagu yang dibawakan oleh grub band zigaz – sahabat jadi cinta
Setelah selesai ilham menghampiriku dan berlutut di depanku sambil menggenggam tanganku
“zahra aku udah lama memendam perasaan ini, dan aku akan mengungkapkannya sekarang” kata ilham
“zahra aku cinta sama kamu, maukah kamu menjadi pacarku?” kata ilham
*terima.. terima.. terima* kata para pengunjung cafe itu, dan disitu ada sophi dan kakaknya ilham, dan ada kakakku
“emmm….” kataku menggantungkan kata
“kenapa kamu gak mau jadi pacar aku? gak papa kok ra aku bisa terima jawabanmu” kata ilham dengan mata yang sudah berkaca-kaca
“aku mau kok ndut” kataku tersenyum
“maksih ya sipit” kata ilham “I LOVE YOU SIPIT ZAHRA” kata ilham
“I LOVE YOU TOO NDUT ILHAM” kataku
“PJ.. PJ.. PJ” kata sophi, kak rafi, kak doni
“tenang bisa diatur, BTW kak rafi udah jadian sama sophi?” tanya ilham
“uadh dong, thanks ya dek” kata kak rafi
“ham jagain adek gua ya, jangan sakiti hati adek gua” kata kak doni
“iya kak aku janji, aku bakal jagain zahra dan gak akan menyakiti hatinya” kata ilham
“asiiik gua bakal dapet PJ nih dari 2 pasangan ini yang baru jadian” kata kak doni
“hahaha, iya tenang” kata ilham dan kak rafi
Kita pun bercanda-canda dicafe itu…
END
Nah itulah akhir ceritaku, akhirnya aku punya pacar juga walaupun itu sahabatku… aku pun hidup bahagia bersama ilham… SAHABAT JADI CINTA
Cerpen Karangan: Nur Annisa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS