Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Cerpen - Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah Patah


“ma… kaca mata aku dimana?” Icha menggeledah tasnya yang ada di ruang tamu.
“ini sayang.. tadi mama lihat kacamata kamu kotor, jadi mama bersihin” jawab mamanya dengan sangat lembut.
“oh, makasih ya ma.. ya udah aku kuliah dulu ya ma.. Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumussalam, hati-hati sayang”
Dengan motor vespa pemberian kakenya Icha bergegas ke kampus, jalan yang biasanya padat merayap kini tampak lancar karena hari masih cukup pagi. Icha memang sengaja berangkat lebih awal karena ia janjian sama Yoga, Icha meminta Yoga untuk menjelaskan materi yang kurang ia kuasai. Yoga adalah teman Icha sejak SMA, kini mereka kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan.
“kemana aja sih cha.. lihat.. ini udah jam berapa..!” tanya Yoga tampak kesal.
“ya maaf Ga.. sepuluh menit aja kok..”
“ya udah, cepet.. setengah jam lagi aku harus ketemu sama dosen..”
“ya udah… sabar kek.. ni.. yang ini.. aku enggak ngerti” menunjuk kepada suatu halaman.
“…..” Yoga menjelaskan satu per satu hal yang ada di halaman itu.
Icha tak sepenuhnya fokus pada penjelasan Yoga, sesekali ia melihat ke arah Yoga, entah apa yang ia pikirkan.
“udah ngerti?” tanya Yoga.
“…” Icha tak menjawab dan hanya diam memperhatikan Yoga.
“cha!” tegur Yoga sedikit menekan.
“ah? Apa?”
“udah ngerti?”
“belum..”
“ya ampun cha.. dari tadi satu persatu aku jelasin tapi kamu enggak ngerti? Kebiasaan kamu cha.. ya udah.. nanti aku jelasin lagi.. sekarang aku harus nemuin dosen dulu” Yoga pun berlalu ninggalin Icha yang tersenyum manis di belakangnya.
Di kelasnya Icha sudah ditunggu Riki dan Safli untuk latihan gitar bareng. Dengan gitar pinjaman Riki.. Icha memainkan sebuah lagu yang indah, lagu ciptaannya sendiri. Baru setengah lagu, Yoga lewat depan kelas Icha dan mendengar suara Icha yang merdu, ia terdiam di pintu kelas Icha dan tak sadar jika teman-teman Icha memperhatikannya.
“Yoga…!” seru beberapa cewek dari luar kelas.
Yoga ngartis di sekolah, selain baik dan pintar dia juga ganteng (aw), tak sedikit gadis yang klepek-klepek dan histeris saat melihat Yoga. Sadar akan kehadiran Yoga yang disambut cewek-cewek cantik Icha pun memandangnya dan terus memainkan lagunya.
“cha, lo enggak cemburu gitu?” Safli memegang bahu Icha.
“cemburu? Untuk?” Icha meletakan gitar di lantai.
“ya lo kan deket sama Yoga..”
“gue sama Yoga Cuma temen” jawab Icha sambil tersenyum.
“Cha..!” Yoga berusaha memanggil Icha walau cewek-cewek itu menghalanginya.
“Cha, tu dipanggil Yoga..” bisik Riki.
“apaan, salah denger kali” jawab Icha malas.
Melihat Icha begitu cuek kepadanya, Yoga pun pergi meninggalkan cewek-cewek itu dan kembali ke kelasnya. Sepanjang jalan menuju kelasnya, tak henti-hentinya para cewek memandangnya kagum.
Diparkiran..
Di bawah pohon Yoga duduk di atas motornya, sudah satu jam ia menunggu Icha. Tak lama kemudian ia lihat Icha mulai mendekati vespanya, “Icha..!” ia berteriak memanggil Icha. Tak seperti biasanya Icha selalu riang ketika mendekati Yoga, kali ini ia berjalan lesu dan lambat.
“apa?” tanyanya lirih.
“kamu kenapa sih? Gitu banget”
“gak apa-apa”
“kata salah satu akun twitter.. ketika cewek bilang ga apa-apa itu berarti ada apa-apa”
“sok tahu”
“jutek banget sih”
“biarin”
“Icha… ya udah.. aku mau ngomong..”
“silahkan”
“Cha, aku suka sama kamu.. aku sayang sama kamu.. aku tahu kamu juga sayang kan sama aku.. eeemmn.. would you like to be mine?”
“Yoga? Kamu bercanda..?”
“ada saatnya aku bercanda.. tapi ada saatnya aku serius! Cha..?”
Dengan malu-malu Icha menganggukan kepalanya, Yoga pun tersenyum lebar dan terus memandang Icha dengan wajah yang memerah. Tak mampu menahan gugup yang luar biasa, Icha pun segera menunggangi vespanya dan meninggalkan Yoga.
Bulan demi bulan mereka lewati bersama, fans Yoga tak percaya akan hubungan Yoga dengan Icha. Beberapa dari mereka membenci Icha bahkan menerornya, tapi tanpa lelah Yoga terus meyakinkan Icha.
Dewi, teman Yoga selalu dihantui rasa iri dan cemburu setiap melihat kedekatan Yoga dengan Icha. Seribu cara ia pikirkan untuk memisahkan mereka.
“Cha.. lo itu apain Yoga sih? Lo pelet Yoga ya?! Lo itu enggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama gue! Yoga enggak pantes buat lo! Pantesnya sama gue!” bentak Dewi kepada Icha di sebuah lorong kampus tapi Icha hanya bisa diam.
Yoga yang tak sengaja melihat Icha dan Dewi segera menghampiri mereka dengan wajah santai. Yoga menggandeng Icha dan menatap sinis Dewi, itu membuat Dewi semakin membenci Icha.
“Kata Dewi aku enggak pantes untuk kamu Ga.. bener dia..” Icha mulai menangis.
“kamu jangan dengerin dia! Kamu tahukan dia itu gimana orangnya.. udah, setetes air mata kamu jauh lebih berharga dari sebutir mutiara.. jangan dibuang-buang..” Yoga berusaha meyakinkan Icha.
Yoga menggenggam tangan Icha yan gemetaran karena takut jika Dewi akan menyakitinya. Yoga berpikir apa yang harus ia lakukan agar Icha tersenyum lagi, satu ide manis melintas di pikirannya.
“Cha, aku punya permainan..”
“apa?”
“dah lama kan kita enggak main engklek.. main yu.. eh tu ada tukang balon..”
“kamu mau beli balon?”
“iya, ni ada 2 balon.. yang kalah harus joget segila-gilanya ok? Kamu pasti kalah”
“ok, siapa takut..? PD banget. Terus balonnya untuk apa?”
“balon ini untuk ngirim surat ke angin”
Mereka main engklek di taman, taman itu memang mempunyai satu lokasi yang biasa digunakan untuk refresing. Mereka tertawa dan terus bercanda, walau di taman ada beberapa orang namun tiada yang memperhatikan mereka. Dari jauh Dewi memperhatikan mereka dengan rasa benci yang mendalam.
“HAHAHA akhirnya aku juga yang menang… aku bilang apa.. ni kamu tulis apa kek terserah terus kita terbangin bareng ya..”
Setelah mereka berdua menulis suratnya, secara bersama-sama mereka melepas balon-balon itu. Yoga melihat senyum Icha yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam keadaan apapun.
“ya udah yang kalah joget donk..” suruh Yoga.
‘hah! Jadi beneran joget?!” tanya Icha kaget.
“ya iya donk…”
“hih… malu-maluin..”
“siapa suruh kalah.. wleeek”
Setelah mengumpulkan sejuta keberanian dan menutup rasa malunya, Icha harlem shake an di tengah taman. Orang-orang yang ada di taman tertawa keheranan melihat Icha. Tapi tiba-tiba “AW” kakinya terkilir, Yoga dengan sigap memegangnya agar tak jatuh.
“sakit..” rintih Icha.
“ya udah.. sini aku gendong.. hati-hati” Yoga mulai menggendong Icha.
Hari ini Icha memang ke kampus bareng Yoga karena vespanya mogok, padahal rumah mereka lumayan berjauhan. Sesampainya di rumah, Yoga memijat kaki Icha dan kemudian Icha merasa kakinya jadi lebih baik walau masih sakit. Karena sudah sore Yoga pun pamit pulang.
Hari ini hari 16 Agustus 2013, hari jadi Icha dan Yoga yang ke satu tahun. Yoga berencana mengajak Icha jalan ke luar. Dengan kemeja kotak-kotak Yoga menjemput Icha, setelah menunggu beberapa lama kemudian Icha keluar dengan jilbab merah mudan dan gaunnya.
Mereka pergi ke tempat wisata air terjun, Dewi yang mengetahui kepergian mereka terus membuntuti mereka. Di pinggir air terjun bagian atas Icha dan Yoga berlagak seperti satu adegan di film Titanic, dimana kedua pemeran utama melentangkan tangannya. Kecemburuan Dewi semakin mempuncak, ia mempunyai satu ide jahat, ia berniat melukai Icha.
Dengan penampilan yang berbeda tentu membuat Yoga dan Icha tak menyadari kehadiran Dewi. Ketika Yoga dan Icha melepaskan tangan mereka tiba-tiba Dewi dengan sengaja menabrak Icha. Secara reflek Yoga menarik Icha namun ia terpeleset dan akhirnya jatuh ke pinggir air terjun.
“Yoga…!!!” teriak Icha.
Dewi sangat ketakutan ketika ia tahu bahwa yang jatuh itu Yoga, lelaki yang ia cinta, dengan rasa bersalah Dewi melarikan diri sedangkan Icha segera menghampiri Yoga yang sudah dikerumuni banyak orang.
Suara ambulan mengiringi tangisan Icha melihat Yoga yang tak sadarkan diri, tangannya bergetar kencan. Setibanya di rumah sakit ia terus menangis di depan pintu UGD.
“tante.. Yoga jatuh tante..” dengan tersedu-sedu Icha memberanikan diri untuk menghubungi ibu Yoga.
Tak lama kemudian keluarga Yoga berdatangan begitu juga dengan Riki dan Safli, Icha tak berhenti menangis. Karena waktu sudah menunjukan pukul 15.10 Icha pun bergegas ke mushola bersama Riki dan Safli, dengan sangat khusuk dan air mata yang tak kunjung mengalir ia memohon agar Allah menyelamatkan Yoga.
Semalaman Icha berdiam diri di ruang tunggu bersama keluarga Yoga yang hanya diam berulang kali Icha berusaha bertanya kepada keluarga Yoga tapi tak satu pun jawaban ia dapatkan. Tak lama kemudian di atas tempat tidur ia melihat Yoga yang belum sadarkan diri, ia merasa ada yang aneh dengan Yoga.
Keesokan hari..
Ibu Yoga tak mengizinkan Icha membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga dengan alasan takut Yoga kedinginan. Tak lama kemudian mama Icha datang dengan membawakan pakaian bersih untuk Icha. Setelah membersihkan diri Icha kembali menemani Yoga, tak lama kemudian Yoga mulai membuka matanya, kata yang pertama ia sebutkan adalah nama “Icha”.
Dengan sangat bahagia Icha mengelus-elus rambut Yoga, semua yang menemaninya terdiam tanpa suara. Hingga Yoga merasa ada yang aneh pada dirinya.
“kok kaki kanan sama tangan kanan aku gak bisa gerak sih..?” Yoga bertanya-tanya.
“kenapa Ga? Coba aku lihat..”
Dengan penuh kasih sayang Icha membuka sebagian selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat tangan kanan Yog ayang ternyata diamputasi. Ia segera melanjutkan ke arah kaki, air matanya semakin menderas melihat kaki kanan Yoga yang juga telah tiada. Yoga yang belum bisa menerima semua itu terus menangis, semua yang ada di kamar terus menangis melihat Yoga, tapi dengan ketegarannya Icha menyerahkan bahunya untuk Yoga menangis.
Minggu demi minggu berlalu, Yoga belum mau berkata banyak, ia lebih sering menangis dan berdiam diri. Dewi yang mendengar kabar itu langsung datang ke rumah Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat Yoga terduduk di kursi roda ditemani Icha. Dewi merasa bersalah tapi ia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya, ia pun pergi entah kemana.
Setiap pulang dari kampus Icha selalu menyempatkan diri untuk menemani Yoga. Berkali-kali ia memencet bell tapi tak ada yang membuka pintu, terpaksa ia lompat pagar belakang karena melihat pintu dapur tidak ditutup.
“Yoga..?”
Tiba-tiba ia mendengar suara air dan suara tangisan, ia segera lari ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya Icha ketika melihat Yoga tergeletak di lantai kamar mandi dengan air shower panas yang membasahi Yoga, sepertinya Yoga terpeleset beberapa kali. Icha memapah Yoga dan mengganti pakaian luarnya, ia melihat kulit Yoga menjadi kemerahan karena tersiram air panas. Dengan lembut Icha mengobati Yoga yang pura-pura menahan sakit.
“aku gak bisa apa-apa.. aku hanya bisa nyusahin orang lain aja” kata Yoga lirih.
“kamu ngomong apa sih!”
“seharusnya kemarin aku mati aja, biar enggak nyusahin orang terus”
“Yoga! Allah masih sayang sama kamu.. ini semua kecelakaan, kamu harus buktikan kalau kamu kuat”
“aku enggak sanggup cah.. pasti sebentar lagi kamu juga akan ninggalin aku”
“Yoga! Alu gak suka kamu ngomong gitu.. kalau kamu ngomong gitu sama aja kamu ngeraguin aku dan aku benci diraguin! Kalau kamu enggak kuat biar kaki dan tangan aku jadi kaki dan tangan kamu.. Insya Allah aku gak akan ninggalin kamu..”
Yoga pun menangis dalam rangkulan Icha. Dalam hatinya ia sangat ketakutan bila Icha meninggalkannya tapi ia juga tak mau mempertaruhkan masa depan Icha, yang ia tahu ia sangat mencintai Icha.
Setiap hari Icha menghibur Yoga, ketika Yoga hendak berdiri ia ingat saat Yoga menggongnya.. Icha pun terus memapah Yoga kemana-mana ketika Yoga lelah terus terdiam di kursi roda. Keluarga Yoga terharu melihat Icha yang tak meninggalkan Yoga dengan keadaan seperti itu. Suatu sore ibu Yoga berbincang dengan Icha, ia memberikan sebuah bingkisan yang katanya dari Yoga.
Setelah ia membuka bingkisan itu ternyata isinya adalah lampu proyektor bintang dan sepucuk surat dari Yoga. Membaca kalimat demi kalimat dari surat itu membuat Icha terharu dan menangis bangga memiliki Yoga. Semakin hari cintanya semakin besar walau ia tahu keadaan Yoga sekarang.
Suatu hari teman-teman Yoga datang berkunjung, betapa kagetnya mereka melihat Yoga bisa tersenyum dengan keadaannya yang seperti sekarang. Ketika ditanya “apa alasanmu untuk tersenyum saat ini?” ia menjawab “aku punya Allah.. aku punya keluarga.. aku punya teman.. aku punya Icha.. mereka lebih dari sekedar kaki dan tangan”, teman-temannya pun terharu dan memeluknya erat-erat.
Karena waktu sudah menunjukan pukul 12.30 mereka bergegas mengambil air wudhu dan sholat dzuhur berjama’ah. Walau tak menjadi imam tapi Yoga tetap bersemangat dengan kursi rodanya di syof pertama di belakang imam.
Walau kehilangan tangan dan kakinya tapi ia tak kehilangan cinta dari orang-orang yang ada di sekitarnya, walau kehilangan fans-fansnya tapi ia tahu fans itu bernilai nol. Dengan tulus hati Icha terus mendampingi Yoga, walau orang tuanya selalu menyuruhnya meninggalkan Yoga tapi keteguhan hati dan cintanya membuat ia bertahan.
Kini Yoga dan Icha sering berduet di acara pernikahan dan acara penting lainnya. Orang yang mendengar suara mereka dan melihat cinta mereka terharu, beberapa di antara mereka merasa malu dengan kesetiaan Icha. Sedangkan Dewi kini ia tak pernah kelihatan lagi, entah kemana perginya ia tak ada yang tahu. Dan seperti janjinya, Icha tak meninggalkan Yoga sendirian.
Cerpen Karangan: Aulia Farhah Fa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Cinta Tapi Beda


Dua orang sahabat. Perempuan dan laki-laki saling menyayangi. Mereka berdua banyak perbedaan, namun mereka lah yang bisa menutupi perbedaan itu satu sama lain. Mungkin keyakinan mereka membisikan napas-napas cinta persahabatan. Yang membuat kedua senyuman indah mereka berpadu menjadi satu jalinan kasih sayang, namun tak ubahnya seperti dua persahabatan. Dua hati di antara mereka saling mengerti, memahami dan mengajarkan kasih sayang dengan lembut. Lidia dan Kevin.
Bertemu di suatu surau tepat saat tanggal 25 Desember 2003. Saat perayaan hari Natal bagi umat beragama kristen, tak terkecuali Kevin dan para sahabatnya menikmati keyakinan dan perayaan yang indah hari itu, sejuk sesejuk jiwa yang bermetamorfosa dengan indahnya bunga melati atau yang lain di sekitar surau dekat gerejanya. Sejak saat itu terjalin ikatan persahabatan antara Lidia dan Kevin. Mereka mulai bermain bersama, bersepeda, bahkan jika satu tetesan terlihat di antara satu sahabat, akan ada yang melengkapi dengan senyum. Senyum seorang sahabat yang sejati, yang tak pernah lelah mengajarkan kebaikan dan ketabahan hati saat semua orang menjauhi meskipun diri sahabatnya itu salah sekalipun. selalu bersama. Tak heran bila mereka di katakan seperti orang berpacaran.. iya lebih tepat jika sepasang saudara, maklumlah kebersamaan itu sejak mereka berumur 6 tahun, sudah 9 tahun sekarang. Selalu sama, selalu terjadi kenangan-kenangan sederhaana canda tawa atau permainan layangan yang dulu mereka mainkan.
“Li ingat waktu kecil kita bermain seperti ini?”
“jangan ngaco Kev kalau ngomong, kaya baru aja kita sahabatan haha”
Saat ini Lidia mendidik otak nya, mengasah dirinya di SMP 3 Kenanga Raya, sedangkan Kevin bersekolah di SMP Citra Raya. Meskipun adat dan keyakinan yang berbeda, mereka selalu yakin jika salah seorang dari mereka tidak mungkin meninggalkan persahabatan walaupun tidak ada persamaan adat. Merekalah yang akan menyampaikan lentera persahabatan yang sejati, sehingga mereka merasakan betapa mulianya kisah mereka dengan perbedaan yang abadi.
Suatu hari, mereka janji pulang sekolah bersama. Kevin menunggu Lidia di depan sekolah, rencananya mereka mau pergi ke kantin sekedar minum air fanta. Di situ ternyata Lidia bertemu dengan teman-temannya, lalu dia bergabung dan mengajak Kevin berkenalan. Lidia memang agak tomboy, seperti tidak berkesan sebagai seorang wanita, keindahan tubuhnya saja terlihat, itu pun teramat sayang bagi Tuhannya yang melihat. sikap nya saja saat sedang minum waktu itu kurang sopan. Celana dalam Lidia terlihat dan Kevin juga sempat melihatnya sekilas. Dengan perasaan geli, Kevin berdehem dan berkata
“em… siapa ya yang celana dalamnya keliatan, warna merah lagi.. wow… hehehehe”. Spontan saja Lidia kaget dan menyadari bahwa dirinya yang dimaksud Kevin. Lidia menyeret Kevin keluar kantin sekolah dan berkata
“Kamu nih apa-apaan sih vin! gak tau perasaan orang banget! gue tuh malu!”.
“Maaf Lidia sayang, aku kan bercanda, lagian kamu juga gak tau sopan santun banget! Cewek harusnya feminim dikit kenapa, keindahan kamu bukan diliat dari cantiknya kamu berdandan atau cara berpakaian yang gak nutup aurat. Bunda kamu sendiri kan pernah bilang itu, aku aja gak lupa?”.
Lidia sedikit mengerti apa yang Kevin maksud, dia terdiam, terlintas di benaknya merangkum beberapa kata yang agung didengarnya.
“makna yang kamu katakan akan aku indahkan kok, aku udah salah. Maaf ya sayang? kita pulang yuk!” sambil menggandeng tangan Kevin.
“Li ntar gue main ke rumah lo boleh? Tante mau mbikin kue katanya?”
“Iya main aja. Aku ngerasa sepi kalau kamu pergi”
Sungguh tatapan Kevin setelah Lidia mengatakan itu terasa berbeda.
Sore harinya, Kevin mengajak Llidia untuk bersantai di taman dekat rumah sambil makan kue.
“Vin?”
“hem?”
“gitu amat, ngliat aku kek kalau lagi ngomong, aku kan gak suka dicuekin sama kamu”
“hem”
“gak peka!”
Beberapa menit Lidia mendiamkan sahabatnya itu, perutnya terasa geli dari belakang, Kevin pasti sengaja nih, pikirnya. Lidia bangkit lalu berlari mengkuti alur bumi memutar taman dan Kevin mengejarnya. Sungguh itu mengingatkan peri kecil yang dulu saling bercanda tawa dengan pangerannya. Enam tahun yang lalu.
Setelah agak lama bermain kejar-kejaran, Kevin mengajak Lidia ngobrol di taman itu.
“Li? Lo diem aja? Aku barusan salah?”.
“Cape doang, cubitan kamu keras banget tadi, sakit Vin”
“Iya, kok kamu pake baju kayak gitu sih? gak biasanya mamerin aurat. Kamu lebih indah berjilbab. Aku mengingatkan kamu dalam kebaikan, itu petunjuk Tuhan mu kan? Kamu lupa lagi kata bunda?”. Kata Kevin menatap mata sahabat kecilnya.
“Eh em cuacanya panas banget”
“Sepanas apapun juga aku bakal bikin kamu nyaman, tapi kamu jangan gini lagi ya? Janji?”
Ya Tuhan, ini belaian Kevin? Jangan putuskan cinta persaudaraan kita, aku tak ingin telapak tangan yang kekar ini berhenti membelai dan memelukku dengan lembut. Biarlah setiap jengkalnya senantiasa menawarkan keindahan.
Hari terus berlanjut, lentera mentari siang itu mungkin agak membakar keluhan orang-orang yang merasakannya. Sehingga mereka hanya bersantai menunggu senja menampakan diri untuk beradu dengan wajah sang malam.
Waktu menunjukan pukul 01.00 siang. Lidia merasa sangat pusing, dia tidak bisa menemani Kevin les basket di tempat Pak Dian. Jadi dia menemui Kevin di sekolah untuk ijin pulang dulu. Waktu sedang ngobrol sebentar dengan Kevin, tiba-tiba ada tetesan darah dari hidung Lidia.
“Iya Vin jadi aku kesini mau…”
“Memperlihatkan tetasan darah itu keluar dari hidung mungil kamu?” Kevin merasa dibohongi. Dia khawatir, dia kaget, dia merasa dinomer duakan tentang kepercayaan Lidia kepadanya.
Lidia sudah khawatir, jangan-jangan penyakit nakal ini akan memperlihatkan kebesarannya mengganggu kehidupanku di depan sahabatku sendiri. Sejenak mengamati, Kevin membersihkan darah yang terus bertambah banyak dari hidungku, terasa sangat lembut sentuhan kapasnya.
“mengapa Lidia tidak pernah bercerita tentang penyakitnya. Mengapa dia tega merahasiakan ini pada sahabtnya sendiri” Itu percakapan Kevin dengan mata hatinya.
“Jadi apa yang kamu sembunyikan dariku?”
“Hanya pusing”
“Pusing memikirkanku? Makanya kamu gak pernah cerita sama aku?”
“Enggak tapi aku gak papa, bener Vin”
Lidia menyembunyikannya di pelukan Kevin. Dia tak ingin Kevin menghancurkan rahasianya. Dia tak ingin bicara saat itu. Dia hanya ingin menikmati saat-saat indah dengan sahabatnya.
Semenjak Kevin mengetahui penyakit Lidia dari Bunda, Kevin tak pernah lagi mengajak Lidia bermain seperti dulu. Dia takut terjadi apa-apa jika Lidia terus kecapaian dan penyakitnya kumat lagi. Menembus kebahagiaan Lidia. Kini Kevin juga harus fokus kepada pacar barunya. Via.
Hampir setiap hari Kevin selalu bersama Via, entah itu pulang sekolah, makan bareng, belajar sampai ke gereja pun mereka selalu bersma. Pernah Lidia melihat sahabatnya itu bersama dengan Via ketika dia hendak pergi ke masjid, entah mengapa perasaan Lidia sangat sakit, perasaan ini tak berbunga, tidak juga benuansa melati yang setiap saat Kevin berikan padanya. Rasanya Lidia seperti menanti keajaiban bila dia harus meninggalkan kedamaian kota dan kegundahan hatinya. Lidia cemburu. Ya bagaimana dengan kisah manis dan segala kesedihan yang mereka lewati selama 15 tahun harus terpisah hanya karena setetes darah sebagai buktinya? Lidia menganggp bahwa Kevin telah melupakannya dan karena Kevin sudah tau penyakitnya, Lidia merasa sahabatnya itu jijik untuk dekat dengannya. Lidia selalu mengurung diri di rumah. Dia selalu menangis. Tapi di dalam lubuk hatinya, dia akan tetap bersikap seperti dulu, saat kanker itu belum menyerang otaknya.
Suatu hari, Lidia bertekad menemui Kevin saat pengumuman lulusan di umumkan. Dia ingin melihat kilasan senyum yang menawan, yang membuat pandangan matanya hanya tertuju pada senyuman itu. Atau belaian lembut yang dia nantikan 2 tahun ini. Dia melihat Kevin sedang mencari-cari namanya di urutan lulus atau tidak. Saat itu Kevin sedang bersama Via. Dari belakang, Lidia menepuk pundak Kevin.
“Dooorrr! lagi ngapain kalian berdua?”, tanya Lidia dengan senyum terpaksa.
“eh Lidia, ngagetin aja,! dasar anak kecil ya… gak tau orang lagi bingung nyari nama” dia melanjutkan, melihat wanita yang ada di sampingnya. Dirangkulnya dia, lalu,
“oh ya Vi ini sahabat ku dari kecil, Lidia”
“Hay, seneng bisa kenal kamu”
“Iya sama-sama, Vin aku nyariin kamu, aku berusaha pengen deket kamu terus, tapi rasanya gak bisa. Kamu kaya sunyi banget buat aku?” Lidia tiba-tiba mengumbarkan semua gejolak yang terus menekannya.
Kevin bingung apa yang harus dia lakukan. Dia harus pertahankan siapa, sahabatnya atau satu gadis yang mengganggu persahabatannya dengan Lidia. Gadis yang sebenarnya sangat licik itu.
“Lidia denger! kamu itu terlalu muda dan terlalu resah buat nyari kesunyianku, aku udah punya cewek dan kamu masih aja perduliin aku? Aku gak bakal bisa balik sama aku, aku mohon pengertiannya. Hapuskan aku dari bayangan-bayanganmu setiap hari juga hapus aku dari hidupmu”
“Aku sangat..” Lidia tak bisa melanjutkannya karena terpotong.
“Tolong pergi, sekarang Lidia, bukan satu detik lagi atau berjam-jam kamu berdiri disini” bentak Kevin.
“Ketika Tuhan memberikan satu kebahagiaan untukku, maka aku memilih memberikan kebahagiaan itu untukmu Vin”
“Plis pergi..”
Lidia merasa tertekan saat itu, dia menahan air mata, namun dia masih bisa menggerakkan matanya tanpa setetes air mata. Hanya tersenyum. “Aku pulang dulu ya, tadi cuman liat terus mampir” kata Lidia.
Kevin sempat ingin mengejar peri kecilnya itu, dia merasa salah berkata yang tak penting dia katakan pada sahabatnya. Tapi dia ingat disitu juga ada Via. Gadis berpegang teguh pada pelukan Kevin agar Kevin tak bisa lari mengerjar Lidia. Dia memutuskan untuk tidak mengejarnya, mungkin Lidia merasa kurang diperhatikan. Tapi, bagi Kevin itu semua hanya kenangan. Dia ingin kembali menjumpai masa lalunya, meneruskannya dengan akhir yang bahagia. Rasanya sulit, di sampingnya berdiri gadis yang akan menjadi permaisuri di hatinya. Mungkin. Atau sekedar pura-pura.
Satu minggu berlalu, Kevin dan Lidia tidak pernah berhubungan lagi. Sampai saatnya tiba, Kevin datang ke rumah Lidia dan melihat Lidia terbaring lemas di kamar. Lidia meneteskan air mata saat Kevin berjalan menuju tempat tidurnya. Dia berusaha bangkit dari ketidakmampuannya berdiri menyambut pangeran terindah yang dulu dia miliki.
“Berikan kemudahan kepadaku yang serba kekurangan ini Ya Allah untuk merasakan kebahagiaan dalam kesederhanaanku, jika cinta itu indah tolong labuhkan hati ini kepada lelaki itu” Lidia berangan beberapa saat.
“Sayang, aku minta maaf untuk segala kesalahanku, kamu sahabat terindah yang gak bisa aku lupain gitu aja. sini sandarkan badan kamu di tubuh aku, inget ya, aku yang bakal menopang tubuh kamu waktu kamu kehilangan semua tenagamu. Aku yang berusaha ada di belakang jejak langkah kesedihanmu, cuma aku yang ingin ngebahagiain kamu tapi aku mau bilang sesuatu…”
“Iya itu sekedar kata-kata kamu, pada kenyataan kamu gak pernah ada buat ngehibur aku kan pas aku sakit kaya gini? sekarang aku ngerasa apa yang aku punya itu balik lagi termasuk semangatku.
“Lidia, aku rindu sama kamu, aku ingin kamu selalu ada buat aku, menjadi sahabat aku selamanya, seutuhnya, aku pengen meyakini satu rasa yang gak akan pernah berubah dari diri kamu buat aku, tapi aku harus pergi. Ayah menyuruhku pindah ke Malaysia. Aku harus sekolah disana. Karena ayah tak bisa meninggalakan pekerjaannya, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku akan ada di setiap senyum dan tangisanmu, aku gak akan pergi, aku selalu di hatimu, meskipun ribuan atau bahkan milyaran kilo jejakmu terpisah denganku, hubungan kita jangan sampai putus ya?, kamu janji bakal hubungi aku, sayang ya sama kesehatanmu? Seperti kamu sayang sama aku” kata Kevin dengan nada sedih.
“Aku juga minta kalau aku pergi, kamu gak boleh nangis… aku selalu ada di mimpi-mimpi kamu buat kamu senyum kayak dulu lagi..”, jawab Lidia dengan pelan.
“Pergi kemana? Ke sini? Di hati aku?”
“Enggak, kan Tuhan sayang sama kita, kalau Tuhan pengen minta ditemenin sama aku kan aku harus pergi?”
“Loh kenapa ngaco gitu ngomongnya?”
“Bapa kamu pernah bilang kan kalau dia sayang sama anak-anaknya, dia mengistimewakan kita, mengistimewakan kamu juga, itu tergantung waktu, kalau kita boleh milih juga kita maunya tetep kaya dulu lagi kan”
“Lidia, aku sayang sama kamu, kamu besok anter aku ke bandara ya? Yang mau aku liat terakhir itu kamu sama senyuman indah kamu.
Gejolak rasaku sepertinya mulai tumbuh berbeda jauh dengan beberapa minggu sebelumnya. Ini rasanya berat, satu elektron menancap kuat di dadaku, berputar-putar memilih antara senyuman terakhir untuk dia atau tetap tidur demi kesehatannya.
“Bagaimana dengan Via?”
“Aku cuma liat masa depan Li, bukan masa lalu, masa depan sama kamu nantinya”
“Jadi kamu?”
“Udah putus sama Via”
Lega. Hanya itu satu rasa yang aku paparkan di sebelah kesedihan yang bergejolak sangat kuat.
Esok harinya di bandara. Terakhir kali sebelum mereka berpisah, Lidia sempat bepesan, hanya beberapa kalimat dan itu akan selalu Kevin simpan di hatinya
“Kevin, kamu sahabatku, aku sayang banget sama kamu. Misalnya aku jadi pergi, lebih jauh dari kamu, kamu janji harus selalu inget kenangan kita selama ini, kamu gak boleh sedih, kamu gak boleh lupain aku. Aku bakal liat kamu disana, dari mata hati aku meskipun aku cuma sahabat yang selalu nyusahin kamu, buang-buang duit kamu, sering emosian gara-gara aku tertekan sama penyakit aku, aku minta maaf?”.
“Enggak Lidia, itu salah. kalau aku mikir kaya gitu, gak mungkin aku mau sahabatan sama kamu selama ini, kamu itu peri kecil yang Tuhan kasih buat aku. Kamu itu anugerah, aku sayang kamu kok. Udah ini air matanya jangan pernah dikeluarin lagi ya? Kamu cantik kalau senyum. Kamu sahabat paling cantik yang pernah aku kenal”
Sejenak mereka bertatap muka. Memperhatikan raut wajah yang sudah berganti, mungkin sudah semakin dewasa, angan yang tak pernah mereka lupa, kisah jenaka dan suka cita mereka.
Walau pun kedua planet cinta itu berjarak jauh, setiap hari mereka selalu berhubungan lewat e-mail. Kevin selalu mengirimkan support untuk Lidia disaat selagi Lidia masih bisa menikmati indah dunia. Penyakit kanker yang menyerang otak Lidia tak selamanya bertahan.
Semakin hari Tuhan memberi pertanda untuk Lidia. Tuhan kasihan melihatnya kesakitan. Bunda berusaha mencari dokter dan dimanapun dokter itu berada, tapi mereka semua berputus asa. Lidia menerima kenyataan ini bila dia harus berakhir, tanpa sosok Kevin disaat terakhir dia hidup. Dia hanya berharap Kevin selalu datang ke dalam mimpi indahnya, malam itu di sebuah rumah sakit Pelita, Jakarta Utara. Untuk semua kisah yang selama ini dia kenang dalam memory kecilnya. Dan semangat yang tak pernah redup karena sahabatnya, sahabat yang sangat mulia.
1 Juli 2012. Saat pertama kali masuk SMA, sekolah yang diidamkan semua siswa di dunia setelah lulus SMP dan disitulah detik terakhir sebelum Lidia pergi, dia sempat membuka e-mail terkhirnya yang mungkin esok hari dia tidak dapat membukanya. Dia terhenyak dan mengalirkan begitu deras air matanya karena yang dibacanya ini..
From: kevinsaputra@gmail.co.id
To: lidiayuda@gmail.com
Hal: Makna Di hatiku
Lidia, aku tahu tentang perasaanmu waktu kamu bertemu aku saat aku sedang bersama pacarku, via. Aku tahu dari sorot matamu kalau kau rindu kasih sayangku. Aku udah lama banget mendam perasaan ke kamu. Aku sayang banget sama kamu, mungkin aku mencintaimu. Aku sadar dunia kita memang berbeda. Aku melampiaskan cintaku ke via biar aku bisa lupain kamu, tapi aku gak bisa. aku rindu akan senyumanmu, keceriaanmu waktu bareng sama aku. kamu harus ada kalau nanti kau kembali ke Jakarta… aku yakin kamu bisa sembuh meskipun aku Cuma bisa support kamu dari sini.. aku takut kalau dari dulu aku bilang tentang perasaanku ke kamu, itu Cuma ngerusak persahabtan kita. Aku gak pengen kehilangan kamu Lidia.. kamu harus bisa, untuk aku, aku tau kamu juga cinta sama aku. Cinta kita hanya terhalang perbedaan keyakinan. Dan itu sebabnya kenapa aku tidak memberitahuimu sejak dulu. Salam Kevin.
Tangan lidia bergetar saat hendak membelas kiriman Kevin. Darah dari hidungnya terus keluar, namun dia harus bisa menulis sesuatu. Entah apa itu, tetapi harus.
From: lidiayuda@gmail.com
To: kevinsaputra@gmail.co.id
Hal: Makna Cintaku
Aku gak tahu aku harus ngomong apa. Aku cinta sama kamu Vin… aku tahu kecocokan jiwaku udah ada buat kamu sejak dulu, itu mungkin akan abadi dalam hitungan tahun abad atau setelah aku pergi nanti. Walaupun berbeda cintaku sepenuh hati. Cinta ini yang mengurus air mataku menjadi rasa yang abadi buat kamwebf. Maaf akuffj susah menulis katwe-kata ini. Aku lelah dengan jemari ini. Hanya untuk bersamamu, aku rela menerobos rasa sakit yang kian djkeno. andai waktu bisa terulang, setidaknya aku masih bisa mengungkapkan perasaanku langsung tanpa darah di hidungku yang kian m…
Belum sempat lidia mengirim balasannya ke Kevin, dia jatuh. Tertidur pulas. Untuk selamanya. Untuk menemui sang Khaliq, menemani Tuhan disana. Namun tuhan punya rencana lain. Tuhan sayang dengan Lidia, dia ingin Lidia kembali kepada-Nya.
“Bunda tau nak, kamu bisa setegar ini karena Kevin, bunda ikhlas nak, bunda sayang sama anak bunda. Bunda gak ingin kamu sedih karena liat bunda nangis kayak gini. Kamu yang bahagia ya nak disana, nanti Lidia hadir kalau bunda lagi tidur, Lidia cerita ya sama bunda kalau disana tempatnya nyaman buat anak Bunda ini”
Kini lidia telah bisa tegar, bukan tegar, dia tak kan pernah merasakan sakit apapun. Tuhan telah memepersiapkan takdirnya untuk kita. Lidia anak yang kuat. Dia selalu tersenyum meski fisik dan hatinya sangat terluka. Bu Eva melihat e-mail yang belum terkirim, segera dia kirimkan kepada Kevin. Bu Eva juga menghubungi Kevin kalau Lidia sudah pergi. Sudah menemui Kuasa-Nya. Cinta mereka tak kan bersatu. Kevin pulang ke Jakarta saat Lidia baru saja dikuburkan. Dia hanya bisa memberi senyuman pada bunga-bunga melati dan tanah yang kini menutupi sosok tegar yang dia cintai segala kekurangannya. Dia berjanji, suatu saat nanti.. Dia akan menyambut cintanya, di dunia yang lain. hal yang tidak berubah itu indah, tapi hal yang indah pasti berubah. Dia ingat kalimat itu sebelum Lidia meninggalkannya.
End.
Cerpen Karangan: Alifa Zuhroh Maulida

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Pesan Terakhir


Buat Sahabatku… mungkin ini surat terakhir buatmu. Aku berharap ditemukan olehmu di saat aku masih bernafas. Aku hanya bisa mengutarakan perasaanku lewat surat ini. Bertahun-tahun perasaan ini ku pendam, bukan karena tidak berani tapi aku takut kejujuranku membuat persahabatan kita rusak. Banyak cara yang kulakukan untuk melupakanmu tapi semuanya percuma karena sampai kapan pun hati ini hanya mencintaimu icha. Yang aku sesalkan mengapa kamu harus membuat perjanjian dalam persahabatan kita? hal itu bisa membuatku mati perlahan-lahan karena harus memendam perasaan ini untuk selamanya. Surat ini sengaja kutulis sebagai pesan terakhir untuk sahabat sekaligus orang yang paling kucintai. Karena dokter sudah memfonis umurku sudah tidak lama lagi. Icha… seandainya kamu tau perasaan yang selama ini kurasakan, ingin rasanya dicintai olehmu walau hanya 1 hari. Ya Allah jika ini adalah hari terakhirku, ku ingin…
Itulah isi sepucuk surat berwarna hijau yang icha temukan di dalam kamar reza saat icha ke rumah reza karena mendapat kabar dari tante nadia bahwa reza drop dan hendak di bawa ke rumah sakit. Icha masih tak percaya dengan isi surat yang barusan dia baca. Makna di balik surat itu begitu dalam merasuk kalbu icha sampai-sampai buliran air mata icha menetes membasahi surat itu. Dering handphone icha yang dari tadi terus berbunyi tak ia hiraukan, icha masih tetap saja menatap dalam-dalam isi surat tersebut. Icha baru sadar, tujuan awalnya ia ke rumah reza. Dengan terburu-buru icha pun berlari dan mengendarai motor maticnya dengan kecepatan tinggi.
—
“Icha… dari mana saja? berulang-ulang di telepon tapi ngak di angkat, sms juga ngak di balas”. ucap mitha sambil marah-marah pada ich. Tanpa membalas pertanyaan mitha, icha pun berlari menuju ruangan dimana Reza di rawat sekarang. Perlahan icha buka pintu ruangan itu dan berharap ketika dia sampai di dalam ia melihat senyuman manis dari mulut reza. semakin mendekat semakin sakit hati icha melihat sahabat yang ia sayangi terbaring lemah tak berdaya.
“Rez… bangun rez, aku ngak mau kehilangan sahabat sekaligus orang yang paling aku sayangi” ucap icha yang sedang menitikan air mata sambil memegang erat tangan reza. “icha… apa kami ngak salah dengar?” ucap mitha, yoga dan firman bersamaan. “Kalian semua ngak salah dengar kok, aku memang seorang sahabat yang mencintai sahabatku sendiri yaitu reza” jawab icha dengan meyakinkan sahabat-sahabatnya.
Reza tiba-tiba sadar dan menggenggam balik tangan “icha. Ca… apa kamu benar sayang sama aku?”. “iya rez…jujur sudah lama aku suka sama kamu, tapi aku malu untuk melanggar perjanjian yang kubuat sendiri dalam persahabatan kita”. jawab icha sambil meyakinkan reza dan sahabatnya yang lain. “Rez… aku ingin melewati hari ini berdua denganmu sebagai sahabat dan orang yang paling kucintai”. Reza yang kondisinya lemah tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya dan mengiyakan permintaan icha. Dengan izin dokter, icha pun membawa reza ke taman belakang rumah sakit sambil mendorong kursi roda yang di pakai reza. Di taman belakang itu, reza dan icha saling jujur dan mengungkapkan perasaannya masing-masing.
—
“Aduh… kok mereka berdua lama sekali sih di taman belakang?” ucap mitha khawatir. Tiba-tiba icha muncul sambil mendorong kursi roda yang di pakai oleh reza, setelah dua jam ia menghabiskan waktunya berdua di taman belakang rumah sakit. “kami senang melihat kondisimu sekarang yang makin membaik za, padahal tadi kami khawatir banget” , ucap ketiga sahabatnya yang dari tadi mencemaskannya.
Satu jam kemudian setelah reza mengutarakan perasaannya pada icha, reza pun menghembuskan nafas terakhirnya. Icha dan ketiga sahabatnya yang masih setia menunggu di rumah sakit, masih tidak percaya dengan kepergian reza yang begitu cepat. Masih terlintas di benak mereka senyum dan semangat reza karena cintanya di terima oleh icha yang merupakan sahabatnya sendiri. Kepergian reza, meninggalkan luka dalam buat ke empat sahabatnya itu.
Ke esokan harinya setelah pemakaman reza, icha menelpon mitha dan menyuruhnya untuk mengabari yoga dan firman berkumpul di rumah reza secepatnya. Icha menyuruh sahabatnya berkumpul karena ada hal penting yang ingin icha sampaikan kepada mereka semua.
Setelah ketiga sahabatnya berkumpul, icha kemudian mengajaknya masuk ke kamar Almarhum reza. Di dalam kamar tersebut icha menunjukkan sepucuk surat berwarna hijau yang terletak di atas meja. Tanpa pikir panjang mitha pun mengambil sepucuk surat itu dan membacanya bersama yoga dan firman.
“Jadi karena surat ini kamu menerima cintanya reza ya cha?” Tanya mitha spontan setelah membaca isi surat itu. “Bukan mit, sebenarnya dari dulu aku sudah mencintai reza tapi karena aku yang membuat perjanjian bahwa dalam persahabatan kita tidak boleh suka sama sahabat sendiri. Maka dari itu aku memendam perasaan ini dan mencoba mengubur perasaanku dengan jalan pacaran sama deni”.
“Tapi aku bersyukur berkat surat itu aku tau perasaan reza yang sebenarnya dan ternyata dia juga punya perasaan yang sama kepadaku. Yang aku sesalkan, mengapa aku terlambat membahagiakan sahabatku sekaligus orang yang paling aku sayangi di detik-detik terakhir sisa hidupnya”. Jawab icha panjang lebar sambil mengutarakan isi hatinya. “Kamu ngak salah kok cha, reza memang orangnya agak tertutup. Kita saja sahabatnya baru tau kalau dia mengidap penyakit Leukimia” ucap yoga dengan bijak.
Percakapan mereka berempat pun berakhir ketika firman dan yoga pamit pulang pada tante nadia karena harus latihan band di kampus. Mitha dan icha pun menyusul pamit karena ada urusan masing-masing yang harus diselesaikan. Semenjak percakapan mereka berempat di kamar Alm. Reza, sejak itu pula perjanjian yang sempat icha buat dalam ikatan persahabatannya pun icha batalkan. Icha tidak mau gara-gara perjanjian itu membuat kebebasan dalam persahabatannya terhalang seperti yang dialaminya bersama reza.
Cerpen Karangan: Damayanti Childiesh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen - Goodbye My Lover


Hmmm… Entah bagaimana perasaan yang aku rasakan saat ini. Apakah ini bentuk penyesalan yang teramat mendalam atau apakah ini hanya untaian masa lalu yang membuatku kadang bisa gila memikirkannya. Cerita ini bermula dari dua puluh tahun yang lalu, ketika itu aku baru memasuki sekolah menengah pertama. Di hari pertama sekolah ketika aku masuk ke dalam kelas mataku tertuju pada seorang anak perempuan yang duduk manis di bangku deretan nomor dua dari depan. Aku langsung terpana melihat anak perempuan yang berwajah sangat manis itu. Setelah semua siswa dikelasku memperkenalkan dirinya masing-masing, barulah aku mengetahui jika anak perempuan itu bernama Sinna. Mungkinkah ini cinta monyet atau cinta apalah, aku langsung jatuh cinta dengan Sinna.
Sinna anak perempuan yang sangat supel, teman-teman sekelasku sangat suka bermain dengannya bahkan banyak siswa-siswa yang berlainan kelas dengan kami pun juga dekat dengan Sinna. Ia ramah dengan setiap orang. Jantungku pasti berdetak dengan cepat jika ia mulai tersenyum padaku, aku pun pasti selalu salah tingkah jika berbicara dengannya. Aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku padanya, bahkan aku malu bila berada di dekatnya. Aku hanyalah seorang cowok yang baru beranjak remaja, aku tidak tahu bagaimana cara mendekati seorang wanita. Saat itu aku hanya bisa menatapnya bila ia sedang tertawa dan bermain dengan teman-teman di kelas. Dan dialah Ochi, anak perempuan teman sekelas kami juga, dengan dialah aku suka curhat tentang perasaanku ini pada Sinna. Kadang Ochi sering memberikanku semangat agar aku bisa dan tidak malu bila berada di dekat Sinna.
Aku teringat, dulu pada suatu hari Guru Geografi memberikan kami tugas kelompok, dan entah keajaiban apa yang terjadi tiba-tiba aku dipasangkan dengan Sinna sebagai partner. Sumpah aku sampai tidak bisa tidur bila malam tiba, dan di hari itu Sinna mengajakku pergi ke toko buku untuk mencari bahan makalah yang di tugaskan oleh guru kami.
Berkali-kali aku menelepon Ochi sekedar meminta saran apa yang harus aku lakukan nanti jika aku pergi berdua dengan Sinna. Dengan sabar Ochi mengajarkanku tentang cara mendekati seorang wanita. Aku merasakan kenyamanan di dekatnya ketika kami pergi berdua. Hari itu aku jadikan moment terindah dalam hidup ini. Sinna banyak bercerita hal-hal yang sangat lucu yang bisa membuatku tertawa terbahak-bahak, dia tertawa sangat manis depan mataku. Ohh Tuhan seandainya aku bisa memperpanjang waktu di hari itu, aku cuma bisa mengaguminya di dalam hati ini saja. Sepulang dari toko buku Sinna mengajaku pulang kerumahnya, hmmm ternyata rumah dia tidak begitu jauh dengan sekolah dan rumahku. Kami berdua mengerjakan tugas hingga malam.
Baru aku mau mendekatinya, tiba-tiba aku melihat Sinna mendapatkan sepuncuk surat dari Kakak kelasku. Lega rasanya ketika Ochi memberitahu kalau Sinna menolak untuk berpacaran dengan Kakak kelasku yang bernama Novit itu. Novit terus menerus mengejar-ngejar Sinna, Aku jadi takut mendekati Sinna lagi karena Novit adalah siswa yang paling tampan dan digandrungi oleh banyak anak-anak perempuan pada waktu itu. Aku berpikir Novit yang setampan itu saja di tolak sama Sinna apalagi aku cowo pendiam yang bertampang pas-pasan ini. Sejak saat itu aku hanya bisa memendam perasaanku padanya.
Ketika kenaikan kelas dengan berat hati aku keluar dari sekolah ku, karena aku harus ikut pindah dengan orang tuaku yang di tugaskan ke luar negeri. Mama dan Papa membuat pesta perpisahan dengan teman-teman sekelasku di rumah. Aku tersenyum bahagia ketika melihat kedatangan Sinna di rumah. Sinna memberikan sebuah kado mungil untukku. Aku mendapatkan sebuah gantungan kunci yang berbentuk lambang Superman, superhero kesukaanku.
“Kendy… kok loe tiba-tiba aja sih mau pindah keluar negeri, sudah enggak betah tinggal di Jakarta yaa? Hmm… enggak ada teman yang asyik buat diajak ke kantin lagi dong” Tanya Sinna manja padaku sambil tersenyum.
“Maunya sih enggak pindah Na, tapi bokap gue ditugasin ke Malaysia selama dua tahun, hmmm… beginilah nasib jadi anak yang paling kecil, harus ikut orang tua kemana mereka pergi” jawabku sambil memandang Sinna.
Sinna tertawa mendengar gerutuku, lalu ia menepuk-nepuk pundakku.
“Ayo… kita foto” ajak Sinna yang membuatku terkejut mendengarnya.
“A… apa, hmmm kita foto berdua?” tanyaku ragu-ragu.
“Iyah… loe enggak keberatan kan” jawab Sinna sambil tersenyum.
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Nanti kalau loe kangen sama gue, lihat foto ini aja” canda Sinna sambil tertawa meledek ku.
Yaa… Foto itulah yang membuat obat perinduku bila aku rindu dengannya. Sebelum aku pergi, aku sempat bertemu dengan Ochi dan berpesan padanya. “Jagain Sinna yaa Chi?” Mohonku pada Ochi. Ochi tersenyum lalu ia menganggukan kepalanya. Selama berada di Malaysia aku sering menyurati Ochi hanya untuk sekedar menanyakan keadaan Sinna di sekolah. Ochi selalu bercerita banyak tentang Sinna, kadang ia sampai menulis berlembar-lembar surat yang dikirimnya. Aku selalu tersenyum dan membayangkan Sinna jika membacanya. “Sinna tambah manis lho Ken, kemarin dia abis di panggil guru BP karena ketahuan dia yang membuat heboh guru-guru di sekolah. Loe tau nggak sih, Si Sinna itu jahil banget deh masa helm punya guru di tuker-tuker tempatnya sama dia, jadinya pas guru-guru mau pulang mereka pada kaget karena helm yang berada di motornya itu bukan helm punya dia, terus mereka pada nyariin helmnya yang pada tertuker gitu”. Hahahahahaha… aku tertawa membaca surat Ochi. Yaa Tuhan aku tambah merindukan dirinya saat itu. Pada suatu hari aku mencoba meneleponnya, aku mengobrol dengan Sinna. Seperti biasa Sinna banyak bercerita tentang dirinya. Rasa rindu ini pun sedikit terobati sejenak karena mendengar suaranya. Tetapi apa daya, waktu ku sangat terbatas untuk meneleponnya karena biaya telepon yang sangat mahal pada jaman itu.
Dua tahun telah berlalu, lega rasanya aku bisa kembali ke Negaraku tercinta, terlebih lagi aku bisa dekat dengan Sinna wanita pujaanku. Aku masuk ke SMU yang berlainan dengan Sinna. Entah apa yang terjadi, sejak masuk sekolah aku mengalami pengalaman yang tidak mengenakan. Pada saat itu aku terperangkap masuk ke dalam pergaulan yang salah, aku terjerat sebagai pecandu narkoba dengan teman-temanku. Hidupku jadi tidak normal, aku telah menjadi budak obat-obatan yang bisa mematikan itu. Dengan pede nya suatu hari aku nekat datang ke rumah Sinna dalam keadaan mabuk. Sinna menemuiku dengan wajah dingin, bukan seperti Sinna yang dulu aku kenal. Mungkin ia tahu kalau aku sekarang menjadi anak berandalan yang hampir setiap hari tidak berdaya karena terpengaruh obat-obatan yang aku konsumsi. Sejak saat itu aku menjadi malu pada Sinna, aku tidak berani untuk menemui dan menghubunginya lagi.
Aku tidak bisa melupakan Sinna, dia adalah cinta pertamaku. Entah aku harus berusaha apalagi untuk mendapatkan keberanian mengungkapkan perasaan ini. Hampir setiap hari sepulang dari sekolah diam-diam aku selalu menunggui Sinna di perempatan jalan yang menuju rumahnya. Ia selalu turun dari angkot sepulang dari sekolah disana. Melihat keberadaannya dari jauh saja aku sudah senang sekali. Ingin rasanya diri ini menghampirinya, tapi sayang pada saat yang sama tubuh ini masih dikuasai oleh obat-obatan terlarang.
“Loe harus sembuh Ken, kalo loe mau mendekati Sinna. Dia itu bukan cewe gampangan” kata Ochi sambil menatapku.
“Gue enggak bisa ngelupain dia Chi, gue juga kepengen sembuh? Gue cape begini terus” jawabKu.
“Loe harus berobat, loe harus sembuh dan berusaha keluar dari obat-obatan terlarang itu demi Sinna kalau memang loe mencintainya jelas Ochi”.
Aku terdiam dan termenung sejenak mendengar perkataan Ochi. Dua hari kemudian Mama dan Papa membawaku berobat untuk menghilangkan sisa-sisa racun yang berada di tubuh dan ketergantungan ini agar terbebas dari lingkaran setan itu. Aku bersemangat untuk sembuh, ini semua aku lakukan demi untuk masa depanku dan untuk cintaku pada Sinna tentunya. Segala cobaan dan godaan berhasil aku lewati, setelah satu tahun aku menjalani theraphy akhirnya aku dinyatakan sembuh oleh Dokter.
Pada tahun 1998 aku masuk ke Perguruan tinggi. Banyak wanita-wanita cantik yang berlalu lalang dikampusku ini. Tetapi perasaanku belum saja berubah, masih tetap ada nama Sinna yang ada di hati. Aku belum pernah berpacaran sampai saat ini. Ochi menjuluki ku dengan sebutan cowo yang paling setia dan yang paling bodoh di dunia ini. Yaaa… aku akui, aku adalah cowo yang paling bodoh di dunia ini, karena aku sama sekali tidak bisa mendekati dan menyatakan perasaanku ini kepada wanita yang sudah bertahun-tahun lamanya aku kagumi. Terkadang aku berpikir pasti Sinna sudah mempunyai pacar. Tetapi pikiran itu telah dikalahkan dengan kata setia yang aku miliki. Hmmm betapa bodohnya aku, cinta telah membutakan mata dan perasaanku ini.
Suatu ketika aku dan Ochi pernah berjalan mondar-mandir di depan rumah Sinna. Itu tepat di hari ulang tahunku, dengan mengendarai mobil aku mengajak Ochi pergi ke rumah Sinna. Tetapi sesampai disana aku tidak berani untuk turun dari mobil dan menemuinya. Ochi memandangku dengan perasaan gemas.
“Turun nggak loe dari mobil? terus cepat loe temuin Sinna?” suruh Ochi.
“Aduhhh… gue malu Chi, udah lama banget gue enggak bertemu sama dia” jawabku.
“Kita tuh kaya orang stress tau, mondar-mandir terus di depan rumah Sinna. Nanti kita bisa di curigai orang kalo terus-terusan begini” gerutu Ochi.
Aku menarik napas panjang, lalu dengan berat hati aku putuskan untuk kembali pulang kerumah dengan alasan aku belum siap bertemu dengan Sinna semenjak kejadian aku datang kerumahnya pada waktu itu. Melihat keputusanku Ochi sangat marah, dia terus menerus bergerutu memaki-maki diri ini.
“Loe kok cemen banget sih jadi cowo Ken, gue cape tau ngeliat loe seperti ini terus? Sudahlah kalo loe enggak berani ketemu sama Sinna lagi, loe cari aja cewe yang lain…” Kata Ochi kesal.
“Kok loe ngomong gitu sih Chi” tanyaku.
“Yaaa abis loe pengecut banget sih, jangan sampai suatu hari loe nyesel Ken, udah… aahhh gue enggak mau bantuin loe lagi? Cape gue jadinya” jawab Ochi yang masih terlihat kesal.
Aku tertunduk menyesal, sambil mengendarai mobil ini aku mengantarkan Ochi pulang kerumahnya. Semenjak saat itu aku putuskan untuk melupakan Sinna, aku mencoba membuka hati ini untuk wanita lain yang setidaknya nanti aku temui.
Hari-hari terus berganti, beberapa tahun yang lalu setelah aku lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan serta berkehidupan mapan. Aku menikahi seorang wanita bernama Dita, dia wanita yang sangat baik dan telah memberikan aku dua orang anak yang lucu-lucu. Tetapi kadang hati ini tidak bisa di bohongi, di sela-sela kesibukan aku masih suka terbayang wajah Sinna, memikirkan dia sekarang seperti apa? apakah dia sudah menikah sama sepertiku? hmmm masihkah dia tinggal di rumah orang tuanya itu. Aku ingin sekali bertemu dengan Sinna walaupun hanya sebentar dengan keadaan kami berdua yang juga telah berubah.
Dan hari ini aku di kejutkan dengan kedatangan Ochi yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang kantorku.
“Kendy… Tau nggak loe, kemarin gue bertemu dengan Sinna waktu reunion SMP. Gila sekarang dia tambah manis dan cantik banget! Coba loe lihat deh fotonya” celoteh Ochi antusias.
Dengan jantung yang berdetak sangat kencang aku mengambil ponsel milik Ochi dan melihat foto Sinna. Yaa… Tuhan dia sangat manis sekali, seakan-akan hatiku meleleh kembali saat melihat wajahnya. Terbayang lagi masa-masa lalu ku saat di sekolah dengannya dulu.
“Sinna baru menikah dua bulan yang lalu” kata Ochi sambil tersenyum.
“Du… dua bulan yang lalu” tanyaku gemetar.
“Sudahlah… Ken, semuanya sudah berakhir” jelas Ochi.
“Iyah…” Jawabku singkat.
“Kemarin gue banyak banget cerita tentang perasaan loe dengannya dulu” kata Ochi.
“APA…?” teriakku kaget.
“Iyah… gue tau banget perasaan loe Ken, gue yakin sampai saat ini terkadang loe masih memikirkan Sinna, kan?” Jelas Ochi.
“Sinna… komentar apa” tanyaku ragu.
“Sinna terkejut sewaktu gue menceritakan tentang perasaan loe padanya dulu. Sebenarnya Sinna juga punya perasaan yang sama kaya loe, tapi loe nya aja yang tidak berani untuk mendekatinya? Sudahlah kalian sudah mempunyai pasangan hidup masing-masing. Anggaplah yang dulu itu sebagai cinta monyet” jelas Ochi sambil tertawa.
Aku tersenyum lesu mendengarnya, benar juga kata Ochi kini kami berdua sudah mempunyai pasangan masing-masing. Mudah-mudahan aku bisa merelakan Sinna.
“Sabtu besok gue mau ketemuan sama Sinna. Loe ikut yaa Ken? Sinna mau bertemu sama loe tuh” kata Ochi.
Aku menganggukan kepala tanda setuju. Apa yang harus aku lakukan bila berhadapan dengannya nanti tanyaku dalam hati. Sumpah aku sangat mengharapkan hari sabtu segera tiba. Aku ingin melihat dan memandang wajahnya setelah bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa.
Dan kini aku menatap Sinna yang sedang berjalan menghampiriku dan Ochi. Ia tersenyum manis padaku, diri ini gemetar dan jantung ini mendadak berdetak sangat cepat ketika memandangnya di sore itu. Senyumannya tidak berubah, ingatanku terbang melayang kembali ketika pertama kali aku melihat wajahnya sewaktu di sekolah dulu.
Kennndyyyy… teriak Sinna sambil tertawa dan melambaikan tangannya. Lalu ia memelukku dengan erat. Tubuh ini seolah-olah kaku tidak berdaya di dalam pelukannya.
“Hai… Sudah lama banget yaa kita enggak ketemuan, gue kangen sama loe tau celoteh Sinna sambil tersenyum”.
“Apa kabar… Na, tanyaku sambil memandangnya”.
“Baik… loe kemana aja sih, menghilang begitu saja dan enggak ada kabarnya? Tanya Sinna”.
“Ada kok… jawabku sambil tertawa”.
“Haalllooo… hai… duh kok gue dianggurin yaa di sini? Teriak Ochi sambil mengerutkan keningnya”.
Sinna memeluk Ochi yang sedang cemberut karena merasa di cuekin oleh aku dan Sinna.
“Ochi… Duh loe juga menghilang sama kaya kendy? tau nggak sih… gue sempat nyariin loe berdua sebelum gue menikah kata Sinna sambil menarik napas panjangnya”.
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum melihat dan mendengar celotehan Sinna yang sama sekali tidak berubah dari dulu. Ia masih menjadi anak yang supel dan manis meskipun sudah menikah. Kami bertiga mengobrol panjang lebar di sepanjang sore ini sampai akhirnya kami berpamitan untuk pulang karena sudah malam. Aku mengantarkan Sinna sampai ke mobilnya. Sinna lalu menatapku dengan tajam.
“Maafkan gue yaa Ken, waktu itu gue sudah mengusir loe dari rumah. Hmm itu karena gue takut ketahuan orang tua gue, kalau loe sedang mabuk” kata Sinna pelan.
“Enggak apa-apa Na, itu memang gue yang salah” jawabku sambil tersenyum.
“Gue pulang dulu yaa, kapan-kapan nanti kita bisa ketemuan lagi oke? Gue mau kenalanin loe sama suami gue” kata Sinna sambil tertawa.
Aku menganggukan kepala sambil tersenyum.
“Na… hmm, gu… gue boleh meluk loe sekali lagi nggak?” tanyaku sambil menatapnya.
Kali ini Sinna yang menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Aku memeluk Sinna mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Ada setitik perasaan menyesal yang sangat dalam di hati ini. Kalau saja aku dulu berani untuk mengungkapkan perasaanku ini padanya, entah apa yang terjadi di hari ini. Yaa Tuhan apa yang terjadi dengan perasaanku ini.
Tidak lama kemudian Sedan merah yang di kendarai oleh Sinna perlahan-lahan pergi meninggalkanku. Aku melangkahkan kaki menuju mobilku kembali setelah Sinna pergi. Ochi menatap tajam diri ku yang sudah menunggu di dalam mobil, lalu ia memelukku dengan erat.
“Lupakan Sinna Ken, ini semuanya sudah berlalu kata Ochi lirih”.
Aku menganggukan kepala, tampak disadari airmataku pun mengalir deras di pipi, dada ini terasa amat sesak dan aku pun menangis terisak-isak di depan Ochi. Aku merasakan kehilangan yang amat mendalam. Setelah mengantarkan Ochi pulang, aku mengendarai mobilku berputar-putar mengelilingi kota seorang diri. Dan tepat di tengah malam itu aku berdiri di pinggir pantai, aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan Sinna selamanya. Seorang wanita yang teramat aku kagumi, seorang wanita yang selalu ceria dan membuatku merasa kenyamanan didekatnya, seorang wanita yang telah membuatku semangat untuk sembuh kembali dari jeratan narkoba. Aku memandang gantungan kunci yang bergambar lambang superman di dalam genggaman tanganku sekali lagi, lalu aku melemparnya jauh-jauh ke tengah laut. Selamat tinggal cinta pertamaku yang manis, semoga kamu bahagia dengan pasanganmu sekarang. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, tidak lama kemudian aku pulang k erumah untuk berkumpul kembali dengan Istri dan anak-anaku tercinta.
(Tamat)
Cerpen Karangan: Ayu Soesman

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS